Oleh : Kuliah Kerja Nyata (KKN) R-24 Sub Kelompok 4
(Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya)
Jobuzo – Pertumbuhan jumlah penduduk secara langsung berdampak pada meningkatnya tingkat konsumsi masyarakat. Kondisi ini tentu membawa pengaruh terhadap lingkungan, terutama karena volume sampah yang dihasilkan dari aktivitas konsumsi semakin bertambah. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah tersebut dapat memicu dampak negatif terhadap stabilitas lingkungan. Salah satu penyebab utama memburuknya kondisi lingkungan adalah rendahnya rasa kepedulian masyarakat dalam memilah sampah. Sampah organik dan anorganik kerap kali dicampur menjadi satu tanpa proses pemisahan, bahkan tidak jarang dibuang secara sembarangan di lingkungan sekitar. Perilaku tersebut menjadi pemicu utama pencemaran lingkungan, seperti timbulnya bau yang tidak sedap, pencemaran air tanah, hingga penyebaran penyakit akibat lingkungan yang tidak higienis (Saputra dkk., 2025).

Dusun Tambak Tugu, Desa Kutorejo, merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi tinggi terhadap permasalahan lingkungan, khususnya genangan air saat musim hujan. Hal ini disebabkan oleh kurang optimalnya sistem resapan air tanah yang ada, sehingga air hujan tidak terserap dengan baik dan menimbulkan genangan di beberapa titik. Selain itu, pengelolaan sampah organik oleh masyarakat juga masih belum maksimal. Sampah rumah tangga seperti sisa makanan, daun kering, dan limbah dapur lainnya masih sering dibuang secara langsung tanpa proses pemilahan terlebih dahulu. Kebiasaan ini menyebabkan sampah menumpuk di lingkungan sekitar dan menjadi sumber pencemaran. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat memperburuk kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat setempat.
Melihat persoalan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) R-24 menghadirkan program “Biopori Sebagai Solusi Alternatif Pengelolaan Air Hujan dan Sampah Organik”. Teknologi biopori merupakan konsep sederhana yang digunakan untuk mengelola sampah organik dengan cara memasukkannya ke dalam lubang kecil di dalam tanah. Melalui metode ini, nutrisi dari sampah organik akan terurai dan terserap ke dalam tanah, menciptakan lingkungan yang subur bagi pertumbuhan akar tanaman. Dengan adanya lubang biopori, akar tanaman terdorong untuk tumbuh lebih dalam, sehingga mampu menyerap lebih banyak nutrisi. Selain itu, proses ini juga memperbaiki struktur tanah dan mendukung ketersediaan unsur hara yang penting bagi tanaman. (Apriliyanti dkk., 2023).

Biopori berbentuk lubang-lubang kecil yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter sekitar 10–30 cm dan kedalaman 30–100 cm. Lubang tersebut diisi dengan sampah organik rumah tangga seperti sisa makanan, daun kering, dan limbah dapur lainnya yang berfungsi sebagai sumber nutrisi bagi organisme tanah seperti cacing dan mikroorganisme pengurai. Aktivitas organisme tersebut membentuk pori-pori mikro dalam tanah yang berperan penting dalam meningkatkan daya serap air. Selain itu, proses ini juga mempercepat dekomposisi sampah organik menjadi kompos alami yang bermanfaat bagi tanaman. Dengan demikian, biopori tidak hanya membantu mengelola limbah organik, tetapi juga berkontribusi pada perbaikan struktur tanah dan konservasi air tanah (Sandri dkk., 2024).
Program ini tidak hanya memberikan penyuluhan secara teori, tetapi juga mendorong partisipasi aktif warga dalam praktik langsung pembuatan lubang biopori di halaman rumah masing-masing. Dengan semangat gotong royong, warga dibimbing menggunakan alat bor sederhana, mengisi lubang dengan limbah dapur seperti kulit buah dan daun kering, serta merawatnya agar tetap berfungsi dengan baik. Pendekatan ini membangun rasa memiliki terhadap program yang dijalankan, sehingga kegiatan tersebut tidak hanya menjadi formalitas semata, tetapi benar-benar membawa manfaat nyata bagi lingkungan.
Dampak dari kegiatan ini, warga Dusun Tambak Tugu, Desa Kutorejo dapat memanfaatkan hasil kompos dari lubang biopori untuk menyuburkan tanaman mereka. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi langkah awal terbentuknya budaya lingkungan sehat serta muncul kesadaran baru untuk mengelola sampah organik secara mandiri dan ramah lingkungan.
Biopori Sebagai Solusi Alternatif Pengelolaan Air Hujan dan Sampah Organik