Sinar matahari sore di Taman Danau Duta, Bekasi Utara, mulai melunak. Teriknya yang menyengat perlahan berganti menjadi semburat hangat yang pas di kulit. Hari itu, Minggu, 29 Maret 2026, seperti yang tertera pada flyer digital yang beredar di media sosial.
Udara di tepi danau terasa hidup. Suara angin yang menyusup di antara rimbun dedaunan berpadu mesra dengan tawa renyah anak-anak yang berlarian, sesekali ditimpali deru mesin kendaraan yang melintas di kejauhan.
Hamparan Terpal Biru di Tepi Danau
Di salah satu sudut taman, Bayu sedang sibuk. Pria bertampang tenang itu tampak telaten menggelar terpal biru di atas rumput yang sedikit menguning. Dari sebuah tas besar berbahan terpal tebal hasil modifikasi sendiri agar kuat menahan beban, ia mengeluarkan “harta karunnya”. Puluhan buku, mulai dari dongeng bergambar yang warnanya mulai memudar hingga literatur berat bertema sosial, ia susun rapi.
Baginya, buku-buku ini bukan sekadar kertas bertinta, melainkan jendela-jendela yang sengaja ia bawa ke jalanan agar siapa pun bisa melongok keluar.
Tak jauh dari situ, Agus, relawan dengan energi yang seolah tak pernah habis, sedang sibuk dengan dunianya sendiri. Ia duduk bersila sembari mengasah krayon. Bunyi gesekan pisau rautnya terdengar ritmis, seirama dengan persiapan lapak yang kian lengkap.
Di dahan pohon terdekat, sebuah banner sederhana terikat kuat. “PERPUS JALANAN BEKASI”, begitu tulisannya. Di bawahnya, sebuah kutipan menjadi nyawa kegiatan mereka: “KITA: Membaca, Mewarnai, Menggambar, Bermain, serta Berbincang tentang apa saja.”
Meski jadwal resminya baru dimulai Ba’da Ashar, Bayu dan Agus selalu punya alasan untuk datang lebih awal: mereka ingin menyambut setiap rasa ingin tahu yang lewat.
Kesibukan mereka rupanya menarik perhatian seorang pemuda yang berdiri tak jauh dari lapak. Mengenakan kaos necis dan kacamata bingkai hitam, pemuda itu tampak kontras dengan suasana sekitar.
Di tangannya tergenggam segelas kopi takeaway dari gerai ternama yang harganya mungkin setara dengan tiga atau empat buku bekas di lapak Bayu. Raka namanya. Sebagai mahasiswa sosiologi, kepalanya dipenuhi teori dan angka. Baginya, aksi sosial harus punya skema yang jelas dan hasil yang terukur.
“Bay, ada yang ‘mata-matain’ kita dari tadi,” bisik Agus sambil melirik Raka dengan senyum jenaka.
Bayu menengadah sebentar, menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan. “Biarin aja, Gus. Siapa tahu dia mau nyumbang buku, atau minimal mau duduk baca.”
Raka akhirnya melangkah mendekat. Ia tidak langsung duduk, melainkan berdiri tegak dengan tatapan yang memindai koleksi buku di hadapannya seolah sedang melakukan inspeksi.
Logika Angka vs. Realitas Hati
“Permisi,” suara Raka terdengar formal, sedikit kaku di tengah suasana taman yang santai.
“Ya, silakan. Gabung aja, Bang. Gratis. Semua buku di sini boleh dibaca sepuasnya,” jawab Bayu ramah tanpa menghentikan tangannya yang sedang merapikan tumpukan majalah.
Raka tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih menyiratkan keraguan daripada keramahan. “Makasih. Tapi saya ke sini bukan buat membaca. Saya cuma penasaran sama efektivitas kegiatan ini.”
Agus berhenti mengasah krayon. Ia mendongak, menatap Raka dengan tatapan menyelidik. “Tanya apa, Bang? Tentang koleksi bukunya, atau tentang kami? tapi kami bukan artis, cuma penggiat jalanan aja.”
Raka membetulkan letak kacamatanya. “Saya lihat flyer kalian. Rutin diadakan, ya? Sebagai orang yang peduli pendidikan, saya pengen tahu: Berapa persen sih pertumbuhan minat baca dari kegiatan lapak buku gratis kayak gini? Terus gimana kalian ngukur kesadaran belajar anak-anak di sini? Ada datanya?”
Bayu dan Agus saling berpandangan. Agus tertawa kecil, ada nada masygul yang terselip dalam tawa itu. Bayu, sebaliknya, tetap tenang dengan raut wajah yang teduh.
“Persen?” Bayu mengulang kata itu sambil tersenyum. “Bang, kalau Abang nyari data statistik formal pake grafik yang keren, jujur kami gak punya. Kami gak punya tim survei buat ngukur indeks literasi sebelum dan sesudah kegiatan. Lapak ini swadaya, Bang. Data kami bukan angka di kertas, tapi data hati.”
Kami gak punya tim survei buat ngukur indeks literasi sebelum dan sesudah kegiatan
Raka mengernyitkan kening. “Data hati? Kedengerannya sih puitis, tapi sayangnya gak ilmiah. Gimana kita bisa tahu lapak ini berkualitas? Apa buku-buku bekas ini beneran bisa ningkatin literasi? Tanpa ukuran kuantitatif, gimana kalian evaluasi manfaatnya? Bukannya tanpa administrasi yang rapi, ini cuma jadi kegiatan ‘asal-asalan’?”
Agus meletakkan pisau rautnya. Ia berdiri, menghadap Raka dengan posisi tubuh yang santai tapi tegas. Suaranya mulai masuk ke mode advokasi.
“Bang, gue ngerti Abang bicara soal ‘dampak terukur’. Tapi biarin gue kasih lihat satu kenyataan,” Agus menunjuk ke arah seorang anak laki-laki berkaos kusam yang sedang asyik mewarnai di sudut tikar.
“Yang itu namanya Budi. Abang lihat dia? Bulan lalu, dia dateng cuma buat gangguin dan matah-matahin krayon kami. Dia anak yang akses bacaannya tersumbat karena keadaan. Bagi anak kayak Budi, perpustakaan kota itu jauh dan ‘serem’. Toko buku? Itu tempat mewah yang harga satu buku dongengnya aja bisa buat makan keluarganya dua hari.”
![]() |
| Agus sedang asik mendampingi kelas menggambar |
Membongkar Sumbatan Akses
Agus menarik napas sejenak, matanya menatap tajam ke arah Raka. “Gak semua anak di Bekasi ini punya akses ke perpustakaan sekolah yang lengkap, apalagi punya duit jajan buat beli buku yang mereka pengen. Di sinilah manfaat lapak ini, Bang. Kami bawa buku ke depan muka mereka tanpa syarat. Kami kasih tahu kalau buku itu boleh dipegang, boleh kotor, asal dibaca dan dinikmati. Kami hancurin tembok ‘mahal’ itu.”
Bayu menyambung dengan suara tenang. “Kualitas buat kami itu pas Budi, yang tadinya takut megang buku, hari ini udah bisa cerita soal kura-kura yang menang lomba lari lawan kelinci. Dia gak cuma mewarnai, Bang; dia udah mulai nyerap informasi. Kami ngukur pertumbuhan itu bukan pake kuesioner, tapi dari kehadiran mereka yang konsisten tiap Minggu tanpa disuruh. Minggu pertama kami buka, cuma dua anak yang berani deket. Sekarang? Abang lihat sendiri, udah mau dua puluh anak, mereka malah bawa temen-temennya. Itu ‘persentase’ nyata buat kami.”
Raka tampak tertegun, tapi egonya sebagai akademisi masih mencoba bertahan. “Tapi kan seharusnya ukuran itu ada? Gimana kalian ngebuktiin keberhasilan kalian ke publik kalau gak ada ukuran dan laporannya?”
Agus menggelengkan kepala sambil ketawa. “Ngebuktiin? Justru itu yang aneh dari sistem kita sekarang. Kami ini penggiat, Bang, bukan pegawai dinas atau birokrat. Kalau kami dibebani administrasi ribet buat ngukur tiap minat baca yang tumbuh demi ‘pembuktian’, kegembiraan kami dalam berbagi bakal mati. Kami bakalan lebih sibuk ngisi formulir daripada nemenin anak-anak menggambar atau membacakan mereka dongeng.”
“Lagian lapak ini swadaya, bukan dibiayai APBD” Agus melanjutkan dengan bangga. “Semua biaya dari kantong Bayu, kantong gue, sama donasi temen-temen yang peduli tanpa nyari untung sepeser pun. Kami gak punya waktu buat ngukur persenan, tapi kami punya waktu buat buka akses. Karena akses itu pintu pertama literasi. Tanpa akses, minat baca setinggi langit pun bakal layu sebelum berkembang.”
Bayu berdiri, mendekati Raka. “Bayangin kalau semua orang mikir kayak Abang: ‘Buktiin dulu manfaatnya secara formal baru didukung’. Maka gak bakal pernah ada lapak buku ini. Gak bakal ada akses buat anak-anak yang bahkan buat sekadar megang buku dongeng aja gak berani karena ngerasa itu bukan “kelas” mereka. Kami cuma pengen ngasih dampak kecil yang konsisten, Bang. Membantu apa yang bisa kami bantu, tanpa ribet mikirin soal administrasi out put, out come dst.”
Raka terdiam seribu bahasa. Skeptisisme di wajahnya tidak lantas hilang, tapi ada retakan besar di sana. Ia melihat Budi yang kini sedang tertawa menunjukkan hasil mewarnainya kepada anak di sebelahnya. Ia menatap gelas platik kopi mahalnya, lalu menatap tumpukan buku di atas terpal biru yang tampak jauh lebih berharga di mata anak-anak itu.
Suara adzan Ashar berkumandang, menggema di atas permukaan danau. Beberapa anak lagi mulai berlarian mendekat ke arah terpal, wajah-wajah mereka ceria seolah telah menemukan tempat bermain paling asyik di dunia. Agus langsung menyambut mereka, membagikan kertas dan krayon dengan semangat yang baru.
Raka berbalik dan berjalan pergi. Gelas kopi plastiknya masih di tangan, tapi langkahnya tidak seringan saat ia datang. Ia meninggalkan Perpus Jalanan BKS yang kian riuh, membawa pulang sebuah renungan yang berdenyut di kepalanya, sebuah pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar statistik.
Solilokui
Di tengah dunia yang terobsesi pada “pembuktian administratif” dan angka-angka keberhasilan, kita sering lupa pada substansi dari sebuah gerakan sosial.
Kita sering menuntut bukti sebelum memberi dukungan, tanpa menyadari bahwa bagi banyak anak, keberadaan sebuah lapak buku gratis adalah satu-satunya kesempatan mereka untuk mengenal dunia di luar lingkungan mereka yang terbatas.
Jika akses ke pengetahuan masih menjadi barang mewah bagi sebagian kalangan, maka siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas kecerdasan masa depan mereka?
Apakah kita akan terus berdiri di kejauhan sambil mempertanyakan statistik, atau kita akan turun tangan, sekecil apa pun itu untuk memastikan setiap anak memiliki buku di tangan mereka?
Pilihan untuk ikut membongkar sumbatan akses literasi itu ada di tangan kita semua.
Apa peranmu hari ini?
————
Cerita terinspirasi dari sebuah percakapan di sebuah Grup WA. Terima kasih atas inspirasinya.

