Bandungan, Jobuzo — Suasana sore di Alun-Alun Bandungan mendadak ramai dengan suara lantang sekelompok anak muda yang menuntut perubahan. Komunitas Commune de Liberté, sebuah kelompok yang dikenal aktif dalam gerakan sosial dan kemanusiaan, menggelar aksi damai bertajuk “Dorong Demokrasi Berkeadilan Gender.” Aksi ini tidak hanya menjadi bentuk ekspresi politik, tetapi juga cerminan kesadaran kritis generasi muda terhadap berbagai persoalan bangsa dan ketidakadilan sosial yang masih terjadi hingga hari ini.
Dengan mengenakan pakaian serba hitam dan membawa spanduk bertuliskan “Tolak Penulisan Ulang Sejarah” dan “Jaga Demokrasi,” para massa aksi berbaris rapi di pelataran terbuka Alun-Alun Bandungan. Mereka mengangkat tangan tinggi-tinggi, sebagian memegang poster dengan pesan kuat seperti “No More Criminalisation,” “Save The Earth,” dan “Sex Work Is Work.” Semangat solidaritas dan kepedulian terpancar dari wajah-wajah muda yang menolak bungkam di tengah situasi sosial-politik yang kian menantang.
Menolak Penulisan Ulang Sejarah
Isu utama yang diangkat dalam aksi ini adalah penolakan terhadap upaya penulisan ulang sejarah. Menurut para massa aksi, sejarah merupakan bagian dari identitas dan ingatan kolektif bangsa yang tidak boleh dimanipulasi untuk kepentingan politik sesaat. Mereka menilai, praktik revisi sejarah secara sepihak dapat menghapus peran penting kelompok tertentu, menutupi tragedi kemanusiaan, dan membungkam kebenaran yang seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi generasi penerus.
Melalui spanduk besar bertuliskan “Tolak Penulisan Ulang Sejarah,” komunitas Commune de Liberté menegaskan komitmennya untuk menjaga kejujuran sejarah dan menolak segala bentuk distorsi naratif yang dapat merusak kesadaran publik. Bagi mereka, mengingat sejarah adalah bagian dari menjaga demokrasi.
Jaga Demokrasi dari Kriminalisasi dan Represi
Selain soal sejarah, peserta aksi juga menyoroti isu demokrasi yang dianggap semakin terancam. Dalam orasinya, perwakilan komunitas menyerukan agar negara tidak lagi melakukan kriminalisasi terhadap aktivis, jurnalis, maupun kelompok masyarakat yang menyuarakan kebenaran.
Slogan “No More Criminalisation” menjadi simbol perlawanan terhadap praktik pembungkaman dan intimidasi yang masih sering terjadi. Mereka mengingatkan bahwa demokrasi sejati hanya bisa hidup jika kebebasan berekspresi dan hak untuk berpendapat dilindungi sepenuhnya.
“Menjaga demokrasi berarti melindungi suara rakyat, terutama suara kelompok rentan yang sering diabaikan,” ujar salah satu peserta aksi dengan penuh semangat.

Kepedulian terhadap Lingkungan: Save The Earth
Di tengah tuntutan politik dan sosial, para peserta juga membawa pesan ekologis melalui poster bertuliskan “Save The Earth!” Pesan ini mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga bumi dari ancaman krisis iklim, polusi, dan kerusakan lingkungan yang semakin parah.
Bagi mereka, perjuangan demokrasi tidak akan bermakna jika lingkungan terus rusak. Keadilan ekologis adalah bagian dari keadilan sosial yang harus diperjuangkan bersama. Melindungi bumi berarti melindungi kehidupan manusia dan generasi masa depan.
Sex Work Is Work: Suara untuk Keadilan Gender
Isu yang juga menonjol dalam aksi ini adalah dukungan terhadap pengakuan hak-hak pekerja seks dengan slogan “Sex Work Is Work.” Commune de Liberté menilai bahwa pekerja seks sering menjadi korban diskriminasi dan kriminalisasi, padahal mereka berhak atas perlindungan hukum dan martabat yang sama seperti pekerja lainnya.

Dorong Demokrasi Berkeadilan Gender
Aksi yang digelar di Alun-Alun Bandungan ini menjadi ruang ekspresi kolektif bagi generasi muda untuk menegaskan sikap: bahwa demokrasi harus inklusif dan berkeadilan gender. Demokrasi tidak boleh hanya menjadi milik kelompok tertentu, tetapi harus memberi ruang bagi semua suara — termasuk perempuan, kelompok minoritas, dan pekerja yang terpinggirkan.
Dengan lantang, para peserta menyerukan:
Kami menolak penulisan ulang sejarah! Kami menolak kriminalisasi! Kami ingin bumi diselamatkan! Kami mengakui setiap bentuk kerja yang bermartabat! Dan kami akan terus menjaga demokrasi!
Aksi yang dilakukan secara damai ini berakhir dengan pembacaan pernyataan sikap bersama. Meski sederhana, kegiatan tersebut meninggalkan pesan mendalam bahwa perjuangan untuk demokrasi berkeadilan gender masih terus berlangsung dan generasi muda siap berada di garis depan untuk memperjuangkannya.
Dorong Demokrasi Berkeadilan Gender