Jobuzo – Pemerintah tampak semakin berambisi dalam menghadirkan konektivitas yang merata hingga wilayah paling terpencil Indonesia. Kali ini, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) membuka konsultasi publik untuk mengkaji potensi penerapan teknologi Non-Terrestrial Network Direct-to-Device (NTN-D2D), teknologi komunikasi langsung antara perangkat seluler dan satelit.
Secara sederhana, konsep ini mirip dengan layanan “direct-to-cell” yang ditawarkan Starlink dan beberapa penyedia satelit global lainnya.
Kajian ini tertuang dalam dokumen Call for Information (CFI) yang disusun oleh Direktorat Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital, di bawah Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi.
Baca Juga :

Komdigi rencananya akan menghimpun pandangan, data, serta masukan teknis dari berbagai pemangku kepentingan, mulai dari operator seluler, penyedia satelit, industri perangkat, asosiasi, akademisi, hingga masyarakat umum.
Apa itu teknologi NTN-D2D?
Dari keterangan resmi Komdigi, teknologi NTN-D2D memungkinkan ponsel berkomunikasi langsung ke satelit tanpa perlu menara BTS atau jaringan fiber optik sebagai perantara.
Dengan kata lain, sinyal bisa tetap muncul meskipun pengguna berada di tengah laut, pegunungan, perbatasan negara, atau wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) yang belum terjangkau jaringan darat.
Konsep ini sebenarnya sudah mulai ramai secara global. Starlink menggandeng operator seperti T-Mobile di Amerika untuk menguji layanan direct-to-cell. Apple sudah menanamkan fitur SOS via satelit ke iPhone.

Di sisi lain, beberapa perusahaan seperti AST SpaceMobile dan Lynk Global juga sedang mengembangkan teknologi serupa.
Melihat tren itu, Komdigi tampaknya tidak ingin Indonesia sekadar menjadi konsumen. Lewat kajian ini, pemerintah ingin memastikan teknologi direct-to-device bisa diterapkan dengan model yang sesuai kebutuhan Indonesia, tanpa mengabaikan kedaulatan data, pengaturan spektrum frekuensi, hingga skema bisnis yang tidak merugikan operator lokal.
Kenapa dipertimbangkan sekarang?
Selama bertahun-tahun, pemerataan internet di Indonesia selalu dihadapkan tantangan yang sama: biaya membangun infrastruktur tinggi, medan geografis sulit, dan rentannya jaringan kabel seperti yang beberapa kali terjadi pada kabel laut di Papua dan Maluku.
Teknologi satelit LEO (Low Earth Orbit) dan layanan direct-to-device memberi jalan pintas: tidak perlu menara, cukup satelit dan perangkat yang kompatibel.
Baca Juga :

Melalui kajian NTN-D2D, Komdigi ingin mengetahui sejauh mana teknologi ini bisa ikut memperkuat jaringan nasional — bukan menggantikan infrastruktur yang sudah ada, tetapi menjadi pelengkap terutama untuk keperluan darurat, pertahanan, dan pelayanan publik.
Pemerintah memasukkan pengembangan teknologi satelit dan komunikasi non-terestrial dalam Rencana Strategis Komdigi 2025–2029, sekaligus mendukung target RPJMN 2025–2029 dan visi Indonesia Emas 2045. Artinya, direct-to-cell dipandang sebagai bagian dari peta jalan transformasi digital nasional.
Dalam dokumen CFI, pemerintah menilai teknologi NTN-D2D berpotensi:
- Memperluas layanan seluler hingga ke daerah tanpa infrastruktur darat
- Memperkuat ketahanan komunikasi nasional, terutama saat bencana
- Mendorong aktivitas ekonomi digital di daerah terpencil
- Memberi alternatif komunikasi untuk sektor maritim, aviasi, hingga pertahanan.
HP Nyambung ke Satelit, Komdigi Mau Kaji Teknologi Mirip Starlink