Oleh: Ervin Sandri
Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang
JurnaLPost.com – Selamat! Anda sudah berhasil membaca judul artikel ini. Mungkin itu sudah cukup untuk hari ini. Jatah literasi Anda sudah terpenuhi. Sekarang, silakan tutup laman ini dan kembali menggulir linimasa. Toh, yang penting Anda sudah tahu intinya, kan? Anda sudah bisa ikut berkomentar di unggahan teman dengan modal, “Oh, yang itu? Iya, gue udah baca beritanya.”
Tentu saja “berita” yang Anda maksud adalah 15 kata bombastis yang muncul di notifikasi ponsel Anda.
Ah, betapa pintarnya kita semua. Kita adalah generasi paling terinformasi dalam sejarah peradaban manusia. Dalam lima menit di toilet, kita bisa tahu tentang krisis iklim, skandal selebritas terbaru, pergerakan saham, dan resep seblak viral. Kita tahu semuanya.
…atau setidaknya, kita tahu judulnya.
Inilah surga para pemalas intelektual. Sebuah era di mana kemampuan “membaca” telah kita reduksi menjadi seni memindai (scanning) informasi secepat kilat. Kita tidak lagi membaca untuk memahami; kita memindai untuk mengetahui. Kita mengoleksi judul-judul berita seperti lencana, menumpuknya di kepala kita untuk menciptakan sebuah ilusi indah: ilusi bahwa kita adalah manusia yang berwawasan luas.
Padahal, yang kita lakukan hanyalah menipu diri sendiri.
Informasi dan Malapetaka Setengah Matang
Bayangkan Anda berada di sebuah pesta prasmanan yang menyajikan hidangan dari seluruh dunia. Ada rendang yang dimasak delapan jam, sushi yang dibuat oleh master, pasta dengan saus otentik. Tapi alih-alih mengambil piring dan menikmati hidangannya, Anda hanya berkeliling mencicipi remah-remah roti yang jatuh di taplak meja.
Kenyang? Tentu tidak. Tahu rasa asli makanannya? Sama sekali tidak. Tapi bisakah Anda berkata pada orang lain bahwa Anda sudah “mencicipi” semua hidangan di pesta itu? Secara teknis, bisa.
Itulah kita di tengah banjir informasi. Internet adalah prasmanan pengetahuan. Artikel mendalam, hasil riset, laporan jurnalistik, dan esai pemikiran adalah hidangan utamanya. Sementara itu, judul berita, cuitan singkat, dan potongan video 10 detik adalah remah-remahnya.
Celakanya, kita terlalu sering puas hanya dengan remah-remah itu. Akibatnya? Fatal.
- Kita Menjadi Target Empuk Hoaks: Sebagian besar berita bohong dirancang dengan judul yang provokatif dan emosional. Isinya? Seringkali kosong atau datanya dipelintir. Dengan hanya membaca judul, kita menelan umpannya bulat-bulat, lalu dengan bangga menyebarkannya ke grup keluarga.
- Pikiran Kritis Kita Tumpul: Membaca sebuah artikel secara utuh melatih otak untuk menghubungkan ide, memahami konteks, menimbang argumen, dan menarik kesimpulan. Membaca judul hanya melatih satu hal: reaksi instan. Suka atau tidak suka. Setuju atau tidak setuju. Hitam atau putih. Nuansa? Argumentasi? Latar belakang? Itu semua kemewahan yang tidak kita punya waktunya.
- Kita Kehilangan Empati: Di balik berita tentang bencana alam, konflik, atau kebijakan publik, ada cerita manusia. Ada tangis, harapan, dan perjuangan. Judul berita seringkali hanya menyajikan angka dan fakta dingin. Dengan melewatkan isi cerita, kita perlahan menjadi generasi yang tahu banyak hal, tapi tidak merasakan apa-apa.
Ini Bukan Salah Kita Sepenuhnya, Tapi…
Algoritma media sosial memang dirancang untuk ini. Mereka menyajikan informasi dalam format snackable (mudah dicerna) karena tahu rentang perhatian kita semakin pendek. Semakin banyak judul yang kita klik (atau bahkan hanya kita lihat), semakin banyak iklan yang bisa mereka jual. Kita adalah produknya, dan perhatian kita adalah komoditasnya.
Namun, menyalahkan algoritma sepenuhnya juga berarti melempar tanggung jawab. Pada akhirnya, jari yang menggulir layar itu adalah milik kita. Otak yang memutuskan untuk berhenti di judul itu adalah milik kita.
Membaca lebih dari sekadar judul di zaman sekarang ini bukan lagi soal menambah wawasan. Ini adalah sebuah bentuk perlawanan. Perlawanan terhadap pendangkalan pikiran. Perlawanan terhadap polarisasi. Perlawanan untuk merebut kembali aset kita yang paling berharga: kemampuan untuk berpikir secara mandiri dan mendalam.
Jadi, setelah ini, mungkin coba luangkan tiga menit ekstra. Klik dan baca satu artikel saja sampai tuntas. Anggap saja itu sebagai latihan kecil. Sebuah deklarasi bahwa kita menolak menjadi “buta huruf” jenis baru.
Atau kita bisa terus seperti ini: melek huruf, tapi buta makna. Pilihan di tangan Anda…
Jika Membaca Hanya Sebatas Judul Berita, Apakah Kita Benar-Benar “Bisa Membaca”?