Jobuzo – Pernikahan menyatukan dua orang asing, yang sebelumnya saling menjaga jarak, lalu perlahan belajar saling mendekat. Dari dua kehidupan yang terpisah, kemudian tumbuh menjadi satu irama, saling bergantung tanpa merasa terbebani, saling menerima tanpa perlu banyak penjelasan. Mengubah canggung menjadi akrab. Pernikahan bukan tentang serasi, bukan tentang tampaknya, bahwa yang laki-laki tampan dan yang perempuan cantik. Namun, lebih ke harmonis, bahwa ada canda, senyum, memaafkan, keikhlasan, dimana semua rasa itu menghangatkan masing-masing tanpa canggung.
Menikah inginnya hanya sekali seumur hidup. Bahagia sampai kakek nenek. Setelah anak-anak mandiri dan hidup terpisah, mereka akan kembali hanya berdua. Mereka memilih tetap dirumah berdua, meskipun seringkali anak-anaknya mengajak untuk tinggal bersama.
Orangtua sadar, jika versi mereka terbaik dahulu, belum tentu menjadi versi terbaik di zaman anaknya.
Film pendek Wan An karya Yandi Laurens menggambarkan kehidupan sehari-hari pasangan lansia, keturunan Tionghoa. Tji dan Ing. Film ini sarat dengan makna, menjadi pengingat bagi semua bahwa inilah kehidupan kelak bagi pasangan lansia. Hidup berdua, seringkali irit kata, namun rasa terikat erat. Tanpa berucap, masing-masing tahu kebiasaan, ingin, meski hanya saling menatap.
Rumah tak lagi tentang luas dan megah
Pada film ini digambarkan kehidupan lansia dengan seting di ruang yang cukup untuk bergerak terbatas dengan tidak banyak mengeluarkan tenaga. Mereka tidak butuh rumah megah nan luas, karena terbatas tenaga untuk bergerak. Di film ini tampak sebuah tangga menuju lantai 2, ruang atas berguna, itu dulu ketika anak-anak masih berkumpul dan memerlukan banyak kamar. Namun, ketika sudah lansia dan anak-anak meninggalkan rumah, cukup sehari-hari di ruang yang tidak begitu luas, dengan jarak yang pendek antara dapur, meja makan, kamar mandi, bahkan ruang menerima tamu. Menjemur baju pun tak harus mencari sinar matahari, lebih baik ditempat terjangkau meskipun keringnya bisa dua sampai tiga hari. Demi keamanan, takut terpeleset. Bisa jadi, lantai 2 sudah tidak pernah lagi dikunjungi. Tetap dipertahankan untuk memberi nyaman jika anak-anaknya berkunjung. Solusinya, umum terjadi di masyarakat. Supaya tetap terang, tidak “suwung”, dibelikan lampu otomatis yang akan menyala di kala gelap.
Film ini sangat apik dalam penggambaran suasana. Benar-benar sangat natural. Alurnya lembut namun dalam, penonton diminta untuk menelisik satu per satu setiap detil tidak hanya pada tokoh film, namun pada perkakas dan gerak yang bermakna. Saya menonton film ini bukan hanya melihat sebuah tontonan, tapi memaknai hidup, sehingga saya tidak hanya sekali menonton, namun beberapa kali. Ketika ingat, “Eh, sepertinya ada kaleng Khong Guan ya di meja makannya”, “Eh, apa sih makna gantungan rumah yang berbunyi ketika tertiup angin”, dan penasaran lainnya, dimana film ini mengajak saya tidak hanya melihat, namun juga mencari sumber rujukan untuk saya menelusur dari setiap kiasan yang ditampilkan untuk menjawab setiap penasaran saya.
Iya benar, ada kaleng Khong Guan di meja makan. Biskuit legend di zamannya, bahkan sampai sekarang. Muncul candaan, “Bukan lagi isi biskuit, ternyata rengginan”, “Aku siapa, seperti remahan rempeyek di kaleng Khong Guan”. Film ini menghidupkan nostalgia zaman dulu, dengan tetap memperhatikan selera pasar saat ini. Penonton diajak tersenyum hanya dengan hadirnya kaleng Khong Guan. Gilasan cucian, satu lagi properti yang nampak di film ini. Bukan tak mampu membeli mesin cuci, namun sebagai lansia, dengan kegiatan yang hanya itu-itu saja, mencuci baju dengan tangan, bisa jadi merupakan kegiatan yang dinantikan. Di film ini tergambar, ada kebersamaan ketika mencuci. Tanpa kata minta tolong, Tji sebagai suami sangat paham jika istrinya yang sudah tidak lagi muda, tidak mampu jika harus memeras cucian basah seorang diri. Bersama, mereka memeras baju sebelum di jemur, bersama pula mereka menjemur baju, karena Tji yang harus naik kursi dengan dipegangi istrinya, untuk menjangkau jemuran kayu yang tinggi.
Kaleng Khong Guan, gilasan cucian, dua dari properti dari sekian atribut yang digambarkan dalam suasana rumah pada film Wan An. Memang, bukan tentang luas dan megah. Tapi, isi rumah, bukan hanya penghuninya, beserta juga dengan atribut lain yang memberikan energi positif bagi rumah. Di Film Wan An ada gantungan rumah yang berbunyi, sering disebut lonceng angin (wind chime). Lonceng angin memiliki makna dalam di tradisi Tionghoa, berkaitan dengan feng shui dan filosofi keseharian. Bunyi lonceng dipercaya “membangunkan” energi di setiap sudut rumah yang dianggap sepi dan kurang harmonis. Penanda rumah yang “hidup”, rumah yang bernapas, ada angin, ada waktu yang bergerak, ada kehidupan. Kemudian ada televisi analog, radio yang selalu harus diperbaiki ketika ingin mendengarkan. Aktifitas mereka, untuk menggenapi seluruh ruang rumah, untuk menghidupkan denyut rumah.
Permasalahan yang terselesaikan dengan hal manusiawi, “kentut”
Kehidupan sehari-hari yang tergambar monoton. Mungkin ini penilaian oleh penonton usia belasan sampai lima puluhan. Namun, penonton di atas usia itu, bisa jadi kehidupan seperti itu yang menurut mereka ideal, diharapkan. Di ruang tamu, bahkan hampir diseluruh ruang dengan lampu temaram, waktu berjalan pelan seperti usia mereka. Teh hangat mengepul, menemani setiap perbincangan, suara jam dinding yang menjadi akrab, bukan membicarakan hal serius, hanya untuk memancing tawa satu dengan lainnya. Seperti pada karakter Tji, seringkali kata dan kalimat diulang-ulang demi melihat ekspresi tawa sang istri. Entah istri tertawa hanya untuk menyenangkan suami atau untuk menghidupkan suasana. Tampak oleh penonton, hati dan rasa mereka tertaut dan bahagia. Itulah bersama, bukan tentang memenangkan ego, menang adalah ketika memberikan hangat untuk pasangannya.
Ego juga dimunculkan dalam alur cerita film Wan An. Kegelisahan utama bagi pasangan lansia adalah habisnya atau berakhirnya usia. Harapan masing-masing, menjadi lebih dahulu habis usianya, sehingga tidak menanggung sepi dan sedih. Itulah yang digambarkan dalam film ini. Ketika salah satu bercanda, berpura-pura meninggal, kemudian yang ditinggalkan bersedih, menangis, meratap, akhirnya menjadi bahan candaan, dan berujung pertengkaran. Tidak saling sapa, tidak saling tegur. Namun ada hati yang saling bertaut, tanpa kata “tolong”, semua aktifitas masih dikerjakan bersama meski dengan ekspresi bermusuhan. Pada bagian ini, saya sebagai penonton tersenyum, dalam hati,”meski aku masih menuju lansia, aku dan suamiku seperti itu”.
Bagaimana pertengkaran menjadi reda? Jawaban yang diberikan oleh film Wan An sangat mengena di hati saya. Tji tak dapat menahan kentut, yang telah menjadi kebiasaannya setiap bangun pagi. Pertengkaran yang berhari-hari akhirnya terurai dengan kentut Tji yang tanpa permisi, tanpa drama, hadir dengan pendek, jujur dan sepenuhnya manusiawi. Menjadikan mereka berdua terkekeh kembali, tawa yang lahir dari rasa aman, bukan malu.
Di usia mereka, kentut bukan lagi hal yang harus disembunyikan. Kentut menjadi tanda bahwa tak ada jarak yang perlu dijaga, tak ada topeng yang mesti dipakai. Tubuh boleh lelah, punggung boleh tidak lagi tegap, tapi kejujuran kecil seperti hadirnya kentut, justru menghangatkan dan menarik untuk menjadi topik perbincangan.
Kejujuran yang lahir dari hal manusiawi, hangat layaknya selimut tipis di malam hujan yang lebat.
Kedekatan Tji dan Ing bukan lagi soal pegangan tangan yang menggebu, melainkan kenyamanan untuk menjadi apa adanya. Kentut dalam kesederhanaannya, menjadi penanda, mereka, adalah dua tubuh yang menua bersama, tak ada yang asing, tak ada yang sungkan. Kedekatan yang tercipta bukan lagi tentang menjaga kesan, melainkan tentang penerimaan, tentang kehadiran. Setelah sekian lama hidup bersama, akhirnya belajar bahwa cinta tak selalu rapi.
Film Wan An, menampilkan cerita keseharian yang sering luput dari amatan. Pasangan lansia yang telah menghabiskan waktu bersama, dan kebersamaan menciptakan kejujuran yang tenang. Banyak sikap dan bahasa tubuh terungkap tanpa perlu dibungkus sopan santun dan etika yang kaku. Gerak seadanya, helaan napas, bahkan hanya diam, semuanya tersaji apa adanya.
Tak perlu lagi permisi untuk hal-hal yang manusiawi, kentut yang lepas begitu saja, sendawa yang muncul di sela obrolan, atau membuang ingus tanpa canggung. Semua hadir natural, bahkan kadang bersahut-sahutan, seperti percakapan tubuh yang sudah saling paham. Tidak ada rasa terganggu, justru ada senyum maklum dan tawa kecil yang menyusul.
Pernikahan terkadang jenuh dan bosan, menjelang tidur dan saat bangun tidur, bertemu dengan wajah yang sama. Ketika tubuh direbahkan apa adanya, napas tak lagi diatur agar terdengar rapi, dengkuran kecil, suara tubuh yang jujur menjalankan fungsinya, itulah yang disampaikan film Wan An. Bersama pasangan hidup, keindahan tak lagi harus tampil selalu sempurna. Melainkan tentang rasa aman untuk menjadi diri sendiri sepenuhnya, untuk melakukan hal-hal sederhana dan manusiawi.
Oleh: Farika Nikmah
Dosen Politeknik Negeri Malang
Kehangatan Pasangan Lansia di Film Pendek Wan An Karya Yandi Laurens
