Oleh: Silmi Kamalia Islami
Psikologi, Universitas Brawijaya
Jobuzo – Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menyadari bahwa mereka sering kali membuka ponsel tanpa tujuan jelas, lalu menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk scroll media sosial. Aktivitas ini terasa ringan, menyenangkan, bahkan dianggap “sekadar hiburan”. Namun di balik kebiasaan yang tampak sederhana itu, terdapat mekanisme biologis dan psikologis yang membuat kita sulit berhenti. Penelitian dalam neurosains beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa penggunaan media sosial memiliki karakteristik yang mirip dengan perilaku adiktif lainnya. Baik jurnal internasional maupun penelitian di Indonesia memperlihatkan pola yang serupa: media sosial memberikan rangsangan cepat pada sistem hadiah di otak yang membuat seseorang ingin terus kembali menggunakannya.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui peran dopamin, yaitu neurotransmiter yang terkait dengan rasa senang, motivasi, dan pembelajaran kebiasaan. Menurut studi dari Volkow dan Morales (2015), sistem dopamin bekerja sangat sensitif terhadap rangsangan yang tidak dapat diprediksi. Media sosial menyediakan pola interaksi yang persis seperti itu: notifikasi yang datang tiba-tiba, komentar yang tidak disangka, jumlah likes yang berubah setiap kali dilihat, atau konten yang terus diperbarui tanpa henti. Pola rangsangan yang tidak pasti namun menjanjikan kepuasan ini disebut intermittent reward, yang terbukti sangat kuat dalam membentuk perilaku adiktif. Temuan tersebut sejalan dengan riset lain oleh Turel, He, dan Xue (2018) yang menunjukkan bahwa penggunaan berlebihan media sosial mengaktifkan area otak seperti nucleus accumbens, bagian penting dalam sistem hadiah yang juga aktif dalam kecanduan narkotika ringan.
Di Indonesia, penelitian oleh Sari dan Nugroho (2020) menemukan bahwa mahasiswa yang menggunakan media sosial lebih dari empat jam per hari menunjukkan tanda-tanda problematic social media use, salah satunya adalah dorongan kuat untuk terus memeriksa ponsel meskipun sedang melakukan aktivitas lain. Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan media sosial yang intens dengan meningkatnya impulsivitas, kesulitan konsentrasi, dan kecenderungan menghindari tugas akademik. Mekanisme yang ditemukan dalam penelitian tersebut mendukung temuan internasional bahwa media sosial mempengaruhi sistem kontrol diri di otak, khususnya area prefrontal cortex yang berperan dalam pengambilan keputusan dan pengaturan impuls.
Dari sudut pandang neurosains, adiksi media sosial terjadi melalui dua proses utama: penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif terjadi ketika seseorang mendapatkan pengalaman menyenangkan seperti menerima pujian, menemukan konten lucu, atau merasa terhubung dengan orang lain. Saat hal itu terjadi, dopamin dilepaskan, sehingga otak “belajar” bahwa media sosial adalah sumber kesenangan. Sebaliknya, penguatan negatif muncul ketika seseorang merasakan kecemasan atau ketidaknyamanan saat tidak membuka ponselnya. Menurut penelitian Kuss dan Griffiths (2017), perasaan takut tertinggal informasi (fear of missing out atau FOMO) berperan besar dalam mendorong seseorang untuk terus memeriksa media sosial. Dengan demikian, baik rasa senang ketika membuka media sosial maupun rasa cemas ketika tidak membukanya sama-sama memperkuat kebiasaan tersebut.
Kasus sehari-hari memperjelas bagaimana mekanisme ini bekerja. Banyak orang tanpa sadar menghabiskan waktu sebelum tidur untuk scrolling, meskipun mata sudah lelah. Bagian otak yang bertugas mengatur kontrol diri mungkin menyadari bahwa kebiasaan itu tidak sehat, namun sistem hadiah bekerja lebih cepat dan otomatis. Bahkan ketika seseorang hanya berniat “mengecek sebentar”, algoritma media sosial dirancang untuk menyajikan konten yang sangat relevan dan menarik sehingga membuat pengguna terjebak dalam durasi yang jauh lebih lama dari yang direncanakan. Hal ini sejalan dengan temuan Pratiwi dan Utami (2021) yang menyebutkan bahwa desain antarmuka yang menampilkan infinite scroll meningkatkan kecenderungan perilaku adiktif pada remaja di Indonesia.
Selain aspek biologis, kehadiran media sosial sebagai pelarian emosional juga memperkuat kecenderungan adiktif. Banyak individu menggunakan media sosial ketika merasa bosan, cemas, atau kesepian. Dalam penelitian oleh Elhai et al. (2017), penggunaan media sosial yang intens sering kali terkait dengan upaya mengurangi ketidaknyamanan emosional. Artinya, orang tidak hanya kembali ke media sosial karena mendapatkan kesenangan, tetapi juga karena ingin meredakan stres, sebuah pola yang juga ditemukan dalam adiksi lain seperti makan berlebihan atau adiksi ringan lainnya.
Meski begitu, berbagai penelitian juga memberikan strategi untuk mengurangi kecenderungan adiksi tersebut. Para peneliti dan praktisi merekomendasikan pendekatan yang berfokus pada pelatihan kesadaran diri, pengaturan lingkungan digital, serta penguatan kontrol diri. Studi oleh van Velthoven dan Powell (2021) menunjukkan bahwa praktik mindful technology use, yaitu menggunakan gawai dengan kesadaran penuh terhadap tujuan dan batasan waktu, dapat membantu menekan respons otomatis pada sistem dopamin. Praktisi kesehatan mental di Indonesia, seperti yang dijelaskan dalam penelitian Rahmawati dan Hidayat (2022), menekankan pentingnya membuat batasan penggunaan ponsel, seperti menetapkan jam tanpa gawai, mengatur notifikasi agar tidak muncul secara terus-menerus, serta mengganti momen scrolling dengan aktivitas alternatif yang memberi makna atau relaksasi, seperti membaca atau latihan pernapasan. Strategi lain yang direkomendasikan adalah menyusun ulang lingkungan digital, misalnya menonaktifkan fitur infinite scrolling melalui pengaturan aplikasi atau menggunakan aplikasi pembatas waktu. Pendekatan ini bekerja karena membantu mengurangi paparan terhadap pemicu rangsangan yang memperkuat adiksi, sekaligus meningkatkan kemampuan prefrontal cortex dalam mengontrol perilaku.
Pada akhirnya, kesulitan melepaskan diri dari kebiasaan scrolling media sosial bukanlah tanda lemahnya kemauan, melainkan hasil interaksi yang kompleks antara sistem hadiah di otak, desain aplikasi, dan kondisi emosional sehari-hari. Dengan memahami mekanisme ini, kita dapat lebih bijak menata ulang cara kita menggunakan teknologi dan menyusun strategi yang sesuai untuk menjaga kesehatan mental dan keseimbangan hidup.
Daftar Pustaka
Elhai, J. D., Dvorak, R. D., Levine, J. C., & Hall, B. J. (2017). Problematic smartphone use: A conceptual overview and systematic review. Journal of Affective Disorders.
Kuss, D. J., & Griffiths, M. (2017). Social Networking Sites and Addiction: Ten Lessons Learned. International Journal of Environmental Research and Public Health.
Pratiwi, D., & Utami, S. (2021). Desain antarmuka dan perilaku adiktif remaja terhadap media sosial. Jurnal Psikologi Indonesia.
Rahmawati, N., & Hidayat, A. (2022). Regulasi diri dalam penggunaan media sosial pada mahasiswa. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental.
Sari, N., & Nugroho, A. (2020). Hubungan penggunaan media sosial dan impulsivitas pada mahasiswa. Jurnal Psikologi Universitas Indonesia.
Turel, O., He, Q., Xue, G., Xiao, L., & Bechara, A. (2018). Brain activity in the reward and self-control systems predicts social media addiction. Psychological Reports.
van Velthoven, M., & Powell, J. (2021). Digital health and mindful use. Digital Health Journal.
Volkow, N., & Morales, M. (2015). The Brain on Drugs: From Reward to Addiction. Cell.
Kenapa Sulit Lepas dari Kebiasaan Scroll Media Sosial? Mekanisme Adiksi dalam Otak Kita