Oleh: Della Nuravanza & M. Nasrul Fauzan | Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Swadaya Gunung Jati
Mata kuliah Kewirausahaan ini diampu oleh Ibu Lisa Harry Soelistyowati, SE., MM., serta didampingi oleh Bapak Adi Setiawa, SE., MM.
CIREBON, Jobuzo — Di sudut Jalan Gudang, Kelurahan Pekalipan, sebuah kedai kopi trotoar sederhana telah menjadi saksi bisu geliat anak muda Cirebon selama lebih dari satu dekade. Kopi Pekalipan, begitu kedai ini dikenal, berdiri sejak akhir tahun 2014 dan menahbiskan diri sebagai pelopor kopi jalanan di wilayahnya. Kini, di tengah derasnya arus digitalisasi usaha kecil, kedai legendaris ini mulai melangkah lebih jauh berkat pendampingan sekelompok mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati).
Keunikan Kopi Pekalipan tidak sulit dikenali. Alih-alih menyodorkan buku menu seperti kedai kopi pada umumnya, pelanggan disambut oleh sekitar 65 toples biji kopi dari berbagai daerah di Indonesia yang berjajar rapi dan dapat dipilih langsung. Kedai ini juga tercatat sebagai satu-satunya spesialis seduh manual menggunakan alat Moka Pot di wilayahnya, menghasilkan cita rasa espresso tradisional yang kuat, mantap, dan dominan smoky jauh dari rasa kopi saset yang selama ini akrab di lidah banyak orang.
Pemilik Kopi Pekalipan, Mohammad Syaoqqillah, membangun usaha ini dengan misi memperkenalkan kopi murni Nusantara yang lebih sehat kepada kalangan mahasiswa, dengan harga yang bersahabat bagi kantong anak kos. Sejak awal berdiri, kedai ini konsisten menyasar tiga segmen pelanggan: mahasiswa yang tengah mengerjakan tugas hingga larut malam, masyarakat lokal yang menggemari ruang komunal terbuka, serta komunitas pecinta kopi manual yang telah setia sejak 2014.
“Kedai ini menjadi pelopor kopi jalanan yang tetap mempertahankan tradisi seduh manual sebagai identitas utamanya, di tengah gempuran kedai kopi kekinian.”
Empat Tujuan Pendampingan
Program pendampingan yang digagas Della dan Arul ini tidak berjalan tanpa arah. Setidaknya ada empat tujuan yang ingin dicapai. Pertama, mengidentifikasi kondisi usaha, keunggulan, serta kendala yang dihadapi Kopi Pekalipan, khususnya dalam aspek pemasaran. Kedua, memberikan pendampingan dalam penyusunan media promosi digital guna memperluas jangkauan pemasaran kedai.
Ketiga, membantu Kopi Pekalipan menciptakan identitas visual yang lebih informatif melalui media promosi, seperti poster status buka atau tutup kedai. Keempat, mendorong pemilik usaha untuk lebih aktif memanfaatkan media sosial sebagai sarana branding sekaligus sarana interaksi dengan pelanggan. Keempat tujuan inilah yang kemudian menjadi acuan bagi tim mahasiswa dalam merancang setiap bentuk kontribusi selama masa pendampingan.
Terkendala Promosi Digital
Meski memiliki nilai historis dan cita rasa yang khas, Kopi Pekalipan bukan tanpa tantangan. Selama ini, roda pemasaran kedai lebih banyak berputar dari mulut ke mulut dan reputasi warga sekitar, tanpa memanfaatkan media digital secara optimal. Promosi di media sosial masih sangat terbatas, menu digital belum tersedia untuk diunggah di platform seperti Instagram, dan kedai ini pun belum menjajaki kerja sama dengan layanan pesan-antar daring seperti Gojek, GrabFood, maupun ShopeeFood.
Persoalan lain muncul dari proses penyeduhan itu sendiri. Karena Moka Pot dipanaskan langsung di atas kompor dan setiap pesanan dibuat mendadak tanpa persiapan massal, antrean panjang atau bottleneck kerap terjadi saat kedai ramai pengunjung. Ditambah lagi, jam operasional yang tergolong santai buka sore hingga menjelang dini hari, sekitar pukul 17.00 sampai 03.00 WIB belum dikomunikasikan secara jelas melalui media visual apa pun, sehingga calon pelanggan kerap kesulitan memastikan status buka-tutup kedai dari luar.
Mahasiswa Turun Tangan
Melihat celah tersebut, Della Nuravanza dan M. Nasrul Fauzan, dua mahasiswa Program Studi Manajemen Unswagati di bawah bimbingan dosen pengampu Lisa Harry Soelistyowati, turun langsung melakukan observasi dan wawancara dengan pemilik usaha. Rangkaian kegiatan itu mencakup pengamatan proses produksi, penggalian informasi mengenai sejarah dan kendala usaha, hingga perumusan solusi yang sesuai dengan karakter dan kemampuan operasional kedai.
Dari proses tersebut, lahir dua kontribusi nyata bagi Kopi Pekalipan. Pertama, poster informasi status kedai bertajuk “We Are Open” dan “We Are Closed” yang dirancang agar dapat dipasang secara fisik di depan kedai maupun diunggah sebagai story atau feed di media sosial. Dengan begitu, pelanggan tidak perlu lagi datang langsung hanya untuk memastikan kedai sedang buka atau tutup.
Kedua, tim mahasiswa turut menyusun konsep konten promosi digital yang menonjolkan nilai historis kedai, keunikan konsep 65 toples biji kopi Nusantara, dan kekhasan seduh manual menggunakan Moka Pot. Konten ini dirancang agar dapat digunakan secara berkelanjutan di berbagai kanal media sosial, mulai dari Instagram, WhatsApp, hingga TikTok.
Disambut Positif, Masih Perlu Pendampingan Lanjutan
Hasil pendampingan ini disambut baik oleh pemilik usaha karena dinilai langsung menjawab kendala yang selama ini dirasakan, yakni minimnya promosi digital dan informasi operasional yang belum tersampaikan dengan baik kepada calon pelanggan. Dengan adanya poster status buka-tutup dan konten promosi digital, Kopi Pekalipan kini memiliki modal awal untuk membangun kehadiran digital yang lebih kuat, tanpa harus mengubah identitas dan keautentikan usaha yang telah dijaga sejak 2014.
Meski begitu, tim mahasiswa mengakui proses pendampingan tidak lepas dari kendala, mulai dari jam operasional kedai yang baru buka sore hingga dini hari sehingga membatasi waktu observasi, keterbatasan sumber daya pemilik dalam mengelola media sosial secara mandiri setelah masa pendampingan usai, hingga penyesuaian waktu dokumentasi dengan jam sibuk kedai yang serba mendadak tanpa persiapan massal.
Sebagai tindak lanjut, tim merekomendasikan agar Kopi Pekalipan secara konsisten mengunggah poster dan konten promosi yang telah dirancang, mulai menjajaki kerja sama dengan platform pesan-antar daring, menambah tenaga kerja untuk mengurai antrean saat ramai, menyusun menu digital sederhana, serta mendapatkan pendampingan berkala agar pemanfaatan media digital tetap berjalan berkelanjutan meski masa pendampingan mahasiswa telah berakhir.
Bagi kalangan mahasiswa dan pecinta kopi manual di Cirebon, Kopi Pekalipan bukan sekadar tempat menyeruput kopi—melainkan ruang komunal yang menyimpan sejarah lebih dari satu dekade. Kini, dengan sentuhan digital yang mulai dirintis, kedai kopi trotoar ini berharap dapat terus membumikan kopi Nusantara sembari menjangkau lebih banyak pelanggan baru, tanpa kehilangan jejak keautentikannya. (*)
Artikel ini disusun berdasarkan Laporan Hasil Pendampingan UMKM Kopi Pekalipan, Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Swadaya Gunung Jati, Tahun Ajaran 2025/2026. Mata kuliah Kewieausahaan ini diampu oleh Lisa Harry Soelistyowati, SE., MM., dan didampingi oleh Adi Setiawa, SE., MM.
Kopi Pekalipan, Legenda Kopi Trotoar Cirebon yang Kini Merambah Dunia Digital