JAKARTA , Jobuzo – Pesatnya perkembangan dunia digital membawa banyak kemudahan bagi masyarakat. Namun di balik itu, ancaman kejahatan siber juga semakin meningkat, terutama di media sosial. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi Ananda Satria Pratama atau yang akrab disapa Satria. Praktisi IT lulusan sarjana komputer dari salah satu kampus ternama di Jawa Tengah ini dikenal sebagai pendiri NineZoneDigital dan NineGramPedia. Dalam aktivitas profesionalnya, Satria kerap menerima laporan terkait peretasan akun media sosial, khususnya di platform Instagram.
Menurut Satria, kasus peretasan akun sebenarnya telah marak sejak 2020 dan hingga kini terus berulang dengan pola yang hampir sama. Pelaku biasanya menargetkan akun dengan jumlah pengikut besar, mulai dari selebritas hingga tokoh publik. Modus yang sering digunakan adalah phishing melalui email atau pesan langsung di Instagram yang menawarkan kerja sama, endorsement, atau giveaway. Korban kemudian diarahkan untuk membuka tautan palsu yang menyerupai halaman resmi, sehingga tanpa sadar memberikan akses kepada pelaku.
Setelah berhasil menguasai akun, pelaku biasanya langsung mengganti kata sandi, email pemulihan, serta nomor kontak yang terhubung. Akun yang telah diretas kemudian dimanfaatkan untuk melakukan penipuan. Umumnya pelaku mengunggah promosi penjualan barang seperti emas dengan harga murah atau menawarkan pinjaman uang. Pengikut akun yang percaya pada reputasi pemilik akun berpotensi menjadi korban berikutnya. Satria menilai sebagian besar kasus ini berawal dari kelalaian pengguna atau human error, sehingga edukasi mengenai keamanan digital menjadi sangat penting.
Salah satu kasus yang baru-baru ini ditangani Satria terjadi pada 15 Februari sekitar pukul 22.00. Seorang selebgram Indonesia bernama Henny yang tinggal di Inggris menghubunginya dalam keadaan panik karena akun Instagram miliknya diretas. Tak lama setelah kehilangan akses, akun tersebut digunakan pelaku untuk mengunggah promosi jual beli emas Antam di story dan feed. Kondisi ini berpotensi merugikan, tidak hanya dari sisi keamanan akun tetapi juga reputasi pemiliknya di mata para pengikut.
Mendapat laporan tersebut, Satria segera melakukan penanganan. Berkat pengalaman dan keahliannya di bidang IT, ia berhasil memulihkan akun tersebut dalam waktu kurang dari satu jam. Meski begitu, pelaku sempat mencoba kembali mengambil alih akun melalui beberapa percobaan login. Beruntung, langkah pengamanan lanjutan yang dilakukan berhasil menggagalkan upaya tersebut. Dalam kasus ini tidak ada korban kerugian finansial, meskipun sempat ada pengikut yang hampir tergiur dengan tawaran emas murah yang diposting pelaku.
Keesokan harinya, Satria menerima informasi bahwa banyak pengguna Instagram lain mengalami kejadian serupa dengan pola unggahan yang sama. Dari hasil penelusuran jejak digital, pelaku diduga berada di wilayah Makassar. Melihat kesamaan modus dan pola kerja, Satria menduga aksi tersebut dilakukan oleh jaringan terorganisir, bukan pelaku tunggal. Ia juga menegaskan bahwa kasus serupa telah berulang sejak 2020 dan masih terus terjadi hingga sekarang.
Satria pun mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati ketika menerima pesan dari pihak yang tidak dikenal, terutama yang menawarkan kerja sama atau hadiah dengan iming-iming menggiurkan. Ia menekankan bahwa pencegahan jauh lebih penting dibandingkan pemulihan akun. Di era digital saat ini, kewaspadaan pengguna dan literasi keamanan siber menjadi kunci utama agar masyarakat tidak mudah menjadi korban kejahatan digital.
Maraknya Kejahatan Siber di Media Sosial, Praktisi IT Ananda Satria Pratama Beri Peringatan
