Oleh: Maria Kriska Odan
Jobuzo – Sebentar lagi mereka atau juga kita yang duduk di bangku SMA kelas tiga akan menyelesaikan pendidikan menengah atas. Pastinya ada dilema ketika kita memikirkan masa sekolah yang sebentar lagi akan berakhir. Dalam pikiran siswa/i kelas XII ada kebingungan antara lanjut ke tingkat perguruan tinggi atau harus bekerja atau mungkin harus menjadi gap year.
Ketika ekonomi keluarga menjadi persoalan utama untuk melanjutkan pendidikan, terkadang pemikiran seseorang menjadi buntu, seakan kuliah bukan lagi sebuah impian yang harus diraih tetapi ia hanya tinggal menjadi angan-angan. Ketika diam di rumah setelah tamat SMA dan menjadi pengangguran, seorang anak pasti berpikir bahwa ia hanya menjadi beban keluarga. Belum lagi perkataan orang tua yang terkadang melukai hati seorang anak membuatnya merasa keberadaannya dalam keluarga seakan menjadi sumber masalah.
Apalagi jika yang mengalami adalah seorang anak perempuan, yang notabene kita ketahui bersama bahwa perempuan biasanya lebih banyak berpikir menggunakan hati. Ketika pandangannya tentang keberadaannya telah salah maka ia pun mengambil keputusan yang salah yaitu menikah di usia muda. Baginya, dengan menikah di usia muda bisa menghilangkan beban yang ada pada keluarganya. Dengan menikah ia tidak lagi menjadi sumber masalah dalam keluarganya atau ia tidak lagi menjadi beban keluarga. Namun ia tidak melihat sisi buruk dari menikah muda khususnya bagi seorang perempuan.
Ketika kita memilih untuk menikah di usia muda, awalnya kita merasa senang karena kita bisa bersama dengan seseorang yang kita sebut kekasih saat SMA dulu. Namun kita tidak melihat bahwa usia belasan itu adalah usia yang masih terbilang labil, usia yang masih ingin bebas. Ketika sudah berkeluarga tidak ada kebebasan. Si lelaki harus bertanggung jawab atas pasangannya, begitupun dengan si wanita.
Ketika si lelaki ingin bebas seperti berkumpul bersama teman-temannya namun pasangannya melarang, lalu karena emosi yang belum bisa dikontrol muncullah yang namanya KDRT. Selain itu, kehamilan dan melahirkan di bawah umur sangat berisiko besar bagi kesehatan ibu dan bayi, bahkan bisa berdampak pada kematian. Belum lagi masalah ekonomi dalam rumah tangga. Ketika money tidak stabil, pikiran pun berantakan dan akhirnya muncul lagi yang namanya KDRT.
Masa muda tidak datang dua kali. Kita tidak bisa merasakan nikmatnya masa muda setelah kita hidup berkeluarga. Saya melihat orang yang nikah muda seperti menua belum pada usianya. Ketika saya menjadikan mereka ruang sampel ada ketakutan dalam diri saya. Saya merasa ketika menikah kita tidak punya waktu untuk merawat diri karena yang dilihat hanya pasangan dan buah hati.
Apalagi saya melihat semua pekerjaan rumah itu dikerjakan oleh perempuan, sepertinya masih ada praktik patriarki. Orang dulu selalu bilang, “Percuma perempuan sekolah tinggi-tinggi toh ujung-ujungnya bakal kerja di dapur.” Perempuan dituntut untuk bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah sementara laki-laki hanya mencari nafkah. Perempuan dituntut untuk menghormati lelaki tetapi lelaki malah tidak mampu bersyukur. Perempuan dituntut agar cepat menikah agar tidak dicap perawan tua, sedangkan lelaki bebas menikah pada usia berapa pun yang mereka mau. Apakah itu adil?
Di zaman sekarang pemikiran perempuan harus lebih terbuka. Menikah bukan menjadi solusi untuk menghilangkan cap beban keluarga. Masih banyak cara untuk kita bisa menikmati hidup, masih banyak jalan untuk kita bisa kuliah, toh pemerintah tidak pernah tutup mata. Jika tidak kuliah kan kita bisa kerja. Siapa yang mengatakan wanita hanya bisa di dapur, di kasur, dan di sumur? Sekarang banyak wanita yang bekerja di kantor bahkan banyak yang menjadi independent women.
Wanita tidak butuh lelaki untuk menopang hidupnya. Sebagai seorang wanita kita harus mampu berdiri di atas kaki sendiri. Selagi masih ada kesempatan jangan disia-siakan. Ketika diberi kesempatan untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin jangan sia-siakan. Ketika diberi waktu untuk mencari pengalaman dengan bekerja ataupun apa pun itu, nikmatilah.
Dunia terlalu luas untuk kita memikirkan masalah hati, pasangan ataupun rumah tangga. Saya pernah mendengarkan sebuah kalimat, “Lelaki hanya akan diambil oleh dua pilihan antara diambil Tuhan atau diambil orang,” jadi jangan pernah bergantung pada mereka. Cinta terkadang membuat pemikiran kita buntu, saking kecintaannya kita lupa bahwa mencintai diri sendiri jauh lebih penting.
Selagi masih bebas, jelajahilah dunia yang menakjubkan ini. Cari petualangan yang menambah wawasan dan memperluas relasi, karena yang akan menyelamatkan perempuan hanya pendidikan yang kita peroleh. Tidak masalah jika harus menikah di usia 30-an tanpa harus takut dibilang tunang (perawan tua dalam bahasa Manggarai), karena menikah bukan hanya soal kesiapan finansial tetapi juga tentang kesiapan batin atau mental menerima semua yang akan terjadi ke depannya.
Maka dari itu, kembali saya menekankan bahwa menikah bukanlah solusi yang tepat untuk menghilangkan cap beban keluarga. Jika memang setelah tamat anda hanya berleha-leha, pantas saja anda dicap beban keluarga. Anggapan tersebut tidak mungkin ada jika anda memanfaatkan peluang yang ada dengan sebaik mungkin. Kesadaran harus tumbuh dari dalam diri kita sendiri. Tidak cukup hanya sekadar sadar, ia pun harus mampu mengubah nasibnya.
Menikah Bukanlah Solusi
