Jobuzo – Pendopo Kelurahan Siswodipuran Kecamatan Boyolali terlihat cukup ramai pada Rabu (25/06) pagi kemarin. Bukan tanpa sebab, Research Group (RG) Sejarah Sosial Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) rupanya tengah mengadakan program pengabdian masyarakat dengan mengundang sejumlah pemangku kebijakan dan penggiat sejarah setempat kala itu.
Dilatarbelakangi dari keprihatinan terhadap nasib bangunan peninggalan kolonial yang semakin tergerus zaman serta potensi besar pemanfaatan sebagai media edukasi dan promosi pariwisata RG Sejarah Sosial yang diketuai oleh Dr. M. Bagus Sekar Alam, M.Si ini pun memutuskan untuk membuat kegiatan yang berfokus pada pelestarian situs-situs peninggalan Belanda di Kabupaten Boyolali, khususnya Kelurahan Siswodipuran.
Mengambil judul “Pelestarian dan Publikasi Visual Bangunan Bersejarah Boyolali Masa Kolonial Melalui Media Digital”, RG Sejarah Sosial FIB UNS mengikutsertakan tujuh mahasiswa dalam tim yang dinamai Jejak Lintas Zaman untuk memproduksi konten video edukasi terkait bangunan-bangunan bersejarah di Kelurahan Siswodipuran. Dalam proses pembuatannya, Jejak Lintas Zaman dibimbing langsung oleh para dosen Ilmu Sejarah FIB UNS yang tergabung dalam RG ditambah dengan seorang pegiat cagar budaya Boyolali dan alumnus Ilmu Sejarah Angkatan 2012, Ibnu Rustamadji, S.S.
Acara pengabdian masyarakat tersebut dihadiri oleh Lurah dan segenap perangkat Kelurahan Siswodipuran, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata, tokoh masyarakat, Tim RG Sejarah Sosial UNS dan Tim Jejak Lintas Zaman sebagai creator video documenter.

Konten video Jejak Lintas Zaman menjelaskan secara ringkas sejarah dari bangunan peninggalan kolonial di Siswodipuran disertai dengan kondisi aktualnya saat ini. Bangunan-bangunan seperti gedung Dinas Perpustakaan dan Arsip (dulu Societeit), gedung Perpustakaan Umum (dulu Landraad), gedung Dinas Kesehatan Boyolali, tangsi militer, sekolah, Omah Leo, gereja, rumah-rumah, bahkan makam dan jembatan kuno menjadi bagian dari pembahasannya.
Dalam perjalanan menyusuri sejarah bangunan-bangunan yang ada, Jejak Lintas Zaman menghadirkan pula wawancara dengan Bapak R. Bambang Wirawan sebagai warga lokal sekaligus saksi sejarah yang menyaksikan langsung kondisi bangunan sejak zaman kolonial. Tak lupa di akhir video disampaikan pula pesan-pesan kepada pemerintah dan masyarakat untuk senantiasa merawat bangunan peninggalan masa lalu agar tetap bisa berdiri sebagaimana bentuk aslinya.

Selain itu, RG Sejarah Sosial FIB UNS melalui Jejak Lintas Zaman mendorong pemerintah untuk bisa mengajukan bangunan-bangunan yang masih ada sebagai bagian dari cagar budaya agar lebih terjaga serta menjadikannya sebagai bagian dari objek wisata sejarah yang bermanfaat.
Berkaitan dengan jumlah bangunan peninggalan kolonial sendiri, disebutkan dalam sesi pembahasan setelah pemutaran video bahwa di Kelurahan Siswodipuran terdapat sekitar tiga puluh bangunan. Sayangnya, yang sudah tercatat sebagai cagar budaya banyaknya bisa dihitung jari, bahkan ada yang sudah sepenuhnya menghilang tidak bersisa, seperti Benteng Renovatum. Padahal, bangunan-bangunan tersebut merupakan bagian dari sejarah Boyolali itu sendiri.
Tim Jejak Lintas Zaman
Merawat Memori Bangunan Kolonial Lewat Jejak Lintas Zaman