Oleh: Roy Widya Pratama
Jobuzo – Belakangan ini saya sering melihat wajah-wajah yang bahagia. Mereka mengenakan seragam baru, berdiri di depan gedung-gedung pemerintahan, berfoto dengan orangtua yang matanya basah oleh rasa syukur. Di bawah gambar-gambar itu biasanya berbaris ucapan selamat, doa-doa baik, dan kalimat yang hampir selalu sama: akhirnya perjuanganmu terbayar.
Saya tidak pernah memiliki alasan untuk membenci pemandangan semacam itu.
Terlalu banyak keluarga di negeri ini yang hidup dalam ketidakpastian. Terlalu banyak anak muda yang bertahun-tahun mengirim lamaran tanpa balasan. Terlalu banyak sarjana yang menggantung ijazahnya di dinding sambil bekerja pada pekerjaan yang bahkan tidak membutuhkan pendidikan yang telah mereka tempuh dengan susah payah. Maka ketika seseorang akhirnya menemukan tempat berpijak yang lebih kokoh, sulit rasanya untuk tidak ikut bergembira.
Namun entah mengapa, di balik semua ucapan selamat itu, selalu muncul satu pertanyaan yang mengganggu pikiran saya.
Mengapa begitu banyak orang merasa selamat?
Bukan merasa berhasil.
Bukan merasa berkembang.
Tetapi merasa selamat.
Perbedaannya tipis, tetapi tidak kecil.
Seseorang merasa berhasil ketika ia mencapai sesuatu yang sebelumnya berada jauh di depan. Akan tetapi seseorang merasa selamat ketika ia berhasil keluar dari ancaman yang selama ini mengejarnya.
Dan saya mulai berpikir bahwa mungkin inilah pengakuan paling jujur tentang keadaan negeri ini. Bahwa bagi banyak orang, masa depan telah berubah menjadi ruang yang demikian tidak pasti sehingga sebuah status pekerjaan dapat dirayakan seperti perahu yang berhasil ditemukan di tengah laut yang bergelombang.
Tidak ada yang salah dengan perahunya.
Yang patut direnungkan adalah mengapa begitu banyak orang merasa sedang tenggelam.
Kita hidup di sebuah republik yang sejak kecil mengajarkan kata-kata besar. Di ruang kelas kita diajari tentang persamaan hak. Tentang keadilan sosial. Tentang kesempatan yang terbuka bagi setiap warga negara. Tentang masa depan yang dapat dibangun melalui pendidikan dan kerja keras.
Akan tetapi ketika anak-anak itu tumbuh dewasa, mereka segera berhadapan dengan kenyataan yang lebih rumit daripada pelajaran kewarganegaraan. Mereka menyaksikan bahwa kepastian hidup ternyata merupakan barang yang tidak tersebar merata. Ada kelompok-kelompok yang hidup di bawah langit yang relatif teduh, sementara sebagian lainnya harus berjalan di bawah cuaca yang berubah setiap hari.
Lalu dimulailah perlombaan besar itu.
Jutaan orang berlari menuju pintu yang sama.
Mereka belajar berbulan-bulan.
Mereka mengikuti bimbingan.
Mereka menghafal soal.
Mereka menunda berbagai rencana hidup.
Mereka bertaruh dengan usia muda mereka.
Dan ketika akhirnya sebagian kecil berhasil masuk, kita menyebutnya kemenangan.
Padahal diam-diam yang sedang dirayakan adalah sesuatu yang jauh lebih sederhana: kepastian.
Aneh sekali.
Dalam sebuah negara yang konon dibangun atas cita-cita keadilan sosial, kepastian hidup justru tampil seperti hadiah undian.
Yang lebih menarik lagi adalah cara kita menjelaskan keadaan itu kepada diri sendiri.
Ketika seseorang berhasil memperoleh kedudukan yang lebih aman, kita berkata bahwa itu adalah rezeki. Ketika seseorang memperoleh akses kepada berbagai fasilitas yang tidak dimiliki kebanyakan orang, kita berkata bahwa itu adalah takdir. Ketika jarak antara mereka yang berada di dalam dan mereka yang tetap berada di luar menjadi semakin lebar, kita kembali menenangkan diri dengan kalimat yang sama: setiap orang sudah memiliki bagiannya masing-masing.
Mungkin memang benar.
Mungkin semua itu memang rezeki.
Tetapi saya sering bertanya-tanya, sejak kapan kata rezeki berubah menjadi alasan untuk berhenti berpikir?
Bukankah justru karena sesuatu disebut rezeki, maka muncul kewajiban untuk mempertanggungjawabkannya?
Bukankah setiap nikmat selalu membawa pertanyaan yang mengikuti dari belakang: lalu apa yang akan kau lakukan dengan semua itu?
Saya tidak menemukan banyak pertanyaan semacam itu dalam perayaan-perayaan kita. Yang sering saya temukan justru kegembiraan yang berhenti pada dirinya sendiri. Seolah-olah keberhasilan hanyalah urusan pribadi antara seseorang dengan nasib baiknya. Seolah-olah tidak ada hubungan apa pun antara kenyamanan yang dinikmati seseorang dengan jutaan orang lain yang diam-diam ikut menopang kenyamanan tersebut.
Padahal setiap lembar uang yang masuk ke dalam sistem negara memiliki sejarah yang panjang. Di sana ada keringat buruh yang tidak pernah masuk berita. Ada pedagang kecil yang menghitung untung recehan menjelang malam. Ada petani yang hasil panennya bergantung pada kemurahan cuaca. Ada sopir yang menghabiskan separuh hidupnya di jalanan. Ada orang-orang yang tidak pernah difoto, tidak pernah diwawancarai, dan tidak pernah diberi panggung, tetapi dari merekalah seluruh mesin besar ini memperoleh tenaganya.
Ironisnya, semakin besar sebuah institusi, semakin mudah ia melupakan sumber kehidupan yang membuatnya tetap berdiri.
Ia mulai mengagumi dirinya sendiri.
Ia mulai memuja simbol-simbolnya sendiri.
Ia mulai percaya bahwa gedung-gedung, seragam-seragam, dan berbagai atribut kewibawaan yang dimilikinya merupakan bukti keunggulan, bukan titipan.
Padahal republik ini, setidaknya dalam teori yang kita hafalkan bersama, tidak dibangun untuk melahirkan kelas-kelas baru yang saling berjauhan. Ia tidak dibangun agar sebagian orang hidup di balik pagar-pagar kepastian sementara sebagian lainnya terus diajari cara bersabar. Ia tidak dibangun agar keamanan ekonomi menjadi hak istimewa yang hanya dapat diperoleh melalui perlombaan yang semakin sesak setiap tahun.
Tetapi mungkin persoalannya memang lebih dalam daripada urusan kebijakan.
Mungkin kita sedang menyaksikan perubahan cara sebuah masyarakat memandang manusia.
Kita semakin menghormati hasil, tetapi semakin jarang membicarakan tanggung jawab. Kita semakin mudah mengagumi keberhasilan, tetapi semakin malas bertanya tentang manfaat sosial yang lahir darinya. Kita semakin sering menggunakan bahasa langit untuk menjelaskan keadaan di bumi, padahal langit tidak pernah meminta manusia berhenti memikirkan sesamanya.
Karena itu saya tidak terlalu khawatir dengan orang-orang yang sedang berbahagia atas keberhasilannya. Mereka berhak bergembira. Mereka berhak bersyukur. Bahkan mungkin mereka memang pantas memperoleh semua itu.
Yang lebih membuat saya gelisah adalah masyarakat yang perlahan kehilangan keberanian untuk mengajukan pertanyaan.
Pertanyaan tentang jarak yang semakin melebar.
Pertanyaan tentang kepastian yang semakin mahal.
Pertanyaan tentang mengapa sebuah bangsa yang begitu sering berbicara mengenai keadilan tampak semakin terbiasa hidup berdampingan dengan ketimpangan.
Dan yang paling mengganggu adalah kemungkinan bahwa kita telah terlalu lama menyebut semua itu sebagai sesuatu yang wajar.
Sebab sejarah menunjukkan bahwa ketimpangan tidak pernah menjadi berbahaya hanya karena ia ada. Ketimpangan menjadi berbahaya ketika ia dianggap sebagai hukum alam. Ketika manusia berhenti melihatnya sebagai persoalan yang harus dipikirkan bersama dan mulai menerimanya sebagai nasib yang tidak boleh dipertanyakan.
Pada saat itulah masyarakat berhenti menjadi persekutuan warga dan perlahan berubah menjadi kumpulan penonton. Sebagian menonton dari balkon yang nyaman. Sebagian lagi menonton dari luar pagar. Masing-masing sibuk meyakinkan dirinya bahwa posisi yang mereka tempati adalah kehendak semesta yang tidak perlu dijelaskan lebih jauh.
Barangkali republik ini tidak sedang kekurangan orang pintar. Tidak sedang kekurangan sarjana. Tidak sedang kekurangan lembaga. Yang tampaknya semakin langka justru kesadaran bahwa setiap privilese membawa utang moral, dan setiap kenyamanan yang dinikmati di tengah lautan ketidakpastian orang lain seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan sekadar perayaan.
Sebab pada akhirnya, ukuran sebuah bangsa bukanlah seberapa banyak orang yang berhasil menyeberang ke tepian yang aman. Ukurannya adalah apakah mereka yang sudah sampai di sana masih ingat kepada orang-orang yang belum menemukan perahu.
Orang-Orang yang Berhasil Menyeberang