
Dengan perasaan yang mulai ringan, saya melangkah menuju skytrain shelter. Tidak ada ekspektasi berlebihan, yang penting sampai tujuan dengan aman dan tidak bikin dompet semakin merana. Sempat pula merokok sebentar sambil istirahat di smoking area di luar shelter Skytrain alias Kalayang (Kereta Layang).
Insting Lama yang Tiba-Tiba Aktif
Setelah istrahat sebat saya kembali masuk ke shelter Skytrain, saya bertanya ke petugas yang berjaga,
“Kang, bus DAMRI ke Kayuringin Bekasi sudah ada?”
Dia menjawab, “Lah Pak, bus yang barusan berangkat itu tujuan Bekasi. Gimana mau nunggu bus berikutnya atau mau mengeejar ke Terminal 2? Busnya pasti mampir ke sana.”
Di titik ini insting lama saya langsung aktif. Ingatan tentang pengalaman lalu saat menyaksikan kejadian-kejadian di terminal Pulogadung dan Bekasi zaman dulu dengan para calo-calo dan modusnya yang barbar tiba-tiba muncul. Saya langsung waspada. Tawaran “Mengejar” bus di kepala saya terdengar seperti potensi masalah.
Saya pun balik bertanya, setengah menguji,
“Serius bisa dikejar, Kang? Nggak perlu bayar lagi kan?”
Dia menjawab dengan nada datar tapi yakin,
“Enggak, Pak. Tiketnya kan sudah ada.”
Nada suaranya tidak dibuat-buat, tidak defensif, dan sama sekali tidak tersinggung. Beberapa detik kemudian setelah saya setujui, tanpa banyak bicara dia langsung meminta izin ke sopir bus yang akan jalan untuk mengantar saya ke Terminal 2. Di situ, sedikit demi sedikit, prasangka saya mulai mencair. Saya mulai sadar, boleh jadi ini bukan dunia yang sama seperti yang saya kenal puluhan tahun lalu.

Ditolong Estafet dari Satu Terminal ke Terminal Lain
Saya naik bus dari Terminal 1 menuju Terminal 2. Di perjalanan, perasaan masih campur aduk antara berharap dan tetap berjaga-jaga. Namun sesampainya di Terminal 2, kenyataan kembali menguji kesabaran: bus DAMRI ke Bekasi ternyata sudah meluncur ke Terminal 3.
Rasanya mau menyerah saja. Tapi sopir bus yang mengantar saya justru tenang luar biasa. Tidak mengeluh, tidak menyalahkan keadaan. Dia langsung mencari sopir bus berikutnya yang akan menuju Terminal 3, lalu berkata,
“Ini penumpang Bekasi, mau ngejar busnya.”
Saya hanya bisa mengikuti dengan perasaan setengah tidak percaya. Di pintu bus Terminal 2, petugas checker tiket sempat berdiri hendak memeriksa. Sopir tadi langsung berkata singkat,
“Bu, ini penumpang Bekasi mau kejar bus ke terminal 3.”
Saya refleks mengangkat tiket sambil berkata, “Iya, Bu.”
Checker itu tersenyum, lalu mempersilakan saya naik tanpa pemeriksaan lebih lanjut.
Di momen itu saya benar-benar terdiam. Saya seperti sedang ditolong secara estafet oleh orang-orang yang bahkan tidak saya kenal. Tidak ada drama, tidak ada kebisingan, tidak ada keributan. Semua berjalan seakan mereka sudah terbiasa bekerja seperti tim yang saling menopang.
Akhir yang Manis di Terminal 3
Begitu sampai di parkiran depan Terminal 3, jantung saya kembali berdetak lebih cepat. Saya ikut menoleh ke arah jalur keberangkatan bus dengan perasaan was-was. Dan syukurnya, sopir mengabarkan kalau bus DAMRI tujuan Kayuringin Bekasi masih mangkal. Leganya bukan main.
Saya buru-buru turun. Sopir yang mengantar tadi bahkan sempat hendak mengangkat koper saya. Saya menolak dengan senyum sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali. Saya tarik koper sendiri dan langsung pindah ke bus tujuan Bekasi. Fiuh 2 kali ganti bus demi mengejar bus tujuan Bekasi, sudah berapa orang yang saya repotkan? Terima kasih orang baik 🙂
Akhirnya saya dapat duduk dengan lega. Busnya tidak terlalu besar, tapi bersih, AC dingin, dan dibawanya sangat nyaman. Tidak ugal-ugalan, tidak membuat penumpang tegang. Setelah beberapa menit melaju, entah kapan, saya tertidur pulas. Saat mata terbuka kembali, suasana sudah berubah. Kayuringin sudah di depan mata. Perjalanan dari Cengkareng ke Bekasi selesai tanpa drama yang melelahkan.

Lebih Murah dan Tetap Nyaman
Setelah sekian lama terbiasa dengan taksi bandara dan transportasi online, pengalaman naik DAMRI dari Soetta ke Bekasi ini terasa seperti tamparan kecil sekaligus pelukan hangat. Ketika kondisi keuangan memaksa lebih hemat, ternyata saya tidak harus menurunkan standar rasa aman dan nyaman.
Naik bus malah memberi banyak ruang: tidak perlu basa-basi dengan sopir, tidak perlu memikirkan argo, tidak dibangunkan untuk urusan e-toll, dan yang paling menyenangkan, saya bisa tidur dengan tenang di perjalanan. Tarifnya jelas, sistemnya rapi, dan pelayanannya manusiawi.
Yang paling membekas justru bukan murahnya, melainkan cara para petugas bekerja. Mulai dari loket, shelter, sopir, hingga checker tiket, semuanya ramah, sigap, dan tulus membantu. Tidak ada wajah ketus, tidak ada nada mengusir. Mereka bekerja dengan profesionalitas yang tenang, tanpa banyak bicara, tapi penuh kepedulian.
Terima kasih, DAMRI. Bukan hanya karena telah mengantar saya pulang, tapi juga karena menghadirkan pengalaman yang diam-diam memulihkan rasa percaya.
Tentang Prasangka, Waspada, dan Kebaikan
Sering kali kita memandang hari ini dengan kacamata masa lalu. Kita mengira semua tawaran bantuan adalah jebakan, semua keramahan menyimpan niat tersembunyi. Padahal, dunia terus berubah. Sistem dibenahi, dan semakin banyak orang baik yang bekerja dengan hati.
Tentu saja, kewaspadaan tetap penting. Pengalaman saya ini tidak otomatis bisa dijadikan patokan untuk semua orang dan semua tempat. Setiap perjalanan membawa risikonya masing-masing. Namun barangkali, di sela kewaspadaan itu, kita masih bisa menyisakan sedikit ruang untuk berbaik sangka.
Karena sering kali, justru di saat kita paling lelah, paling curiga, dan paling tidak berharap apa-apa, kebaikan sederhana datang tanpa suara dari orang-orang yang hanya menjalankan tugasnya dengan tulus.
Postingan ini hanya mencerikana pengalaman dan apresiasi kepada Crew DAMRI, bukan endorsemen atau paid post 🙂
Selamat mudik 🙂
