Eric Satria Pratama
S1 Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Muhammadiyah Malang
Jl. Notojoyo, Gang Ayam, kec Karangploso, kab. Malang Jawa Timur 65152
email: [email protected], [email protected]
PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi yang sangat pesat tidak dapat dihindari oleh berbagai aspek kehidupan. Salah satu aspek yang memiliki dampak langsung dari perkembangan teknologi adalah dunia pendidikan. Perkembangan teknologi digital di dunia pendidikan yaitu dengan adanya kecerdasan buatan (AI) yang menjadi salah satu teknologi yang membantu dan memberi kemudahan dalam mencari sumber belajar,mencari referensi jawaban dari persoalan yang diberikan bahkan AI dapat memberikan semua jawaban dan tugas yang diinginkan oleh penggunannya. Kecerdasan buatan telah berkembang menjadi sarana strategis dalam dunia pendidikan yang berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan mutu pembelajaran. Kontribusi tersebut tercermin melalui kemampuan AI dalam menyesuaikan proses belajar dengan kebutuhan individual peserta didik, meningkatkan efisiensi dalam pelaksanaan dan penilaian evaluasi pembelajaran, serta mendukung pengembangan keterampilan abad ke-21 yang esensial bagi siswa (Putra et al.,2024).
Penggunaan AI dalam dunia pendidikan kini semakin luas dan memberi kemudahan kepada penggunanya yang sebelumnya harus dilakukan secara manual kini dengan AI dapat dilakukan secara otomatis dan dengan waktu yang efisien. Biasanya di dalam dunia perkuliahan, mahasiswa sering menggunakan AI saat menyusun karya tulis misalnya esai,makalah,artikel jurnal dan skripsi(Febriani et al.,2023). Kebiasaan penggunaan AI muncul karena AI mampu memberi kemudahan dari apa yang diinginkan penggunanya, sehingga siswa merasa lebih mudah untuk mendapatkan materi pembelajaran tanpa harus mengeksplorasi sumber-sumber secara manual dan mendalam. Penggunaan AI pada dunia pendidikan ,mahasiswa hanya menerima hasil dari apa yang ingin di ketahui mahasiswa tanpa adanya proses dalam mendapatkan dan mencerna hasil tersebut.
Berpikir kritis merupakan keterampilan yang memungkinkan individu untuk mengevaluasi informasi secara objektif, mengenali bias, dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang logis dan rasional(Cholvistaria et al., 2025). Menurut facione,berpikir kritis merupakan suatu kemampuan multidimensional yang mencakup enam aspek utama(Haryanti et al.,2024). Aspek pertama intepretasi yaitu kemampuan memahami arti atau informasi data. Kedua, analisis berkaitan dengan kemampuan mengidentifikasi dan mengkaji hubungan antar unsur informasi secara logis. Selanjutnya, evaluasi merujuk pada kemampuan menilai tingkat kredibilitas bukti serta kekuatan argumen yang digunakan. Aspek keempat inferensi, yakni kemampuan menarik kesimpulan yang rasional dan beralasan berdasarkan data yang tersedia. Aspek kelima mencakup penalaran reflektif, yaitu kemampuan untuk merefleksikan dan menilai proses berpikir yang dilakukan secara sadar dan sistematis. Aspek keenam penjelasan yaitu kemampuan untuk mengungkapkan hasil dari proses seseorang.
Kehadiran alat-alat AI yang semakin canggih telah mengubah pembelajarn di perguruan tinggi secara drastis. Mahasiswa kini dapat dengan mudah mengakses jawaban instan, mendapatkan bantuan dalam menyelesaikan tugas-tugas kompleks, hingga mengandalkan AI untuk menghasilakn konten akademis yang diperlukan. Fenomena tersebut meskipun menawarkan efisiensi dan kemudahan, juga berpotensi menimbulkan ketergantungan yang berlebihan terhadap teknologi AI, yang pada gilirannya dapat mengikis kemampuan mahasiswa untuk berpikir secara kritis dan mendalam. Ketergantungan berlebihan pada AI dalam proses pembelajaran dapat menghasilkan fenomena kecanduan AI. Fenomena tersebut ditandai dengan penggunaan AI secara berlebihan dan tidak kritis dalam berbagai aktivitas akademik.
Penerapan kecerdasan buatan dalam ranah pendidikan memberikan peluang yang signifikan terhadap terwujudnya pembelajaran yang bersifat personal dan adaptif. Salah satunya dengan pemanfaatan sistem analitik pendidikan, perkembangan belajar peserta didik dapat dipantau secara individual, sehingga memungkinkan penyusunan rekomendasi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing siswa. Pendekatan tersebut mendorong proses pembelajaran yang lebih terarah, efektif, dan berorientasi pada pencapaian optimal. Penggunaan AI dalam analitik pendidikan bertujuan merujuk pada penerapan teknologi cerdas untuk mengolah dan menganalisis pendidikan secara sistematis. AI berperan dalamm mengidentifikasi pola belajar, menyusun rekomendasi pemebelajaran, serta meningkatakan efisiensi dan kualitas proses pengajaran. Pemanfaatan teknoogi tersebut harus disertai dengan penerapan etika akademik yang ketat, khususnya dalam menjaga keaslian sebuah karya ilmiah.
Penggunaan kecerdasan buatan (AI) secara berlebihan dan tanpa pertimbangan yang tepat berpotensi menimbulkan permasalahan yang serius dalam proses pembelajaran. Pemanfaatan AI yang tidak terkendali dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis siswa karena menghilangkan kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan merefleksikan informasi yang sejatinya merupakan fondasi utama dalam berpikir kritis. Meskipun AI dapat menghadirkan informasi secara cepat namun jika penggunanya ketergantungan pada hasil akhir tanpa adanya proses penalaran yang mendalam akan menyebabkan penghambatan kemampuan dalam mengolah informasi secara kritis. Kondisi tersebut menyebabkan siswa lebih pasif karena kurang terdorong untuk mempertanyakan secara krtis, menalar, serta membangun pemahaman yang mandalam terhadap suatu konsep. Oleh karena itu, penggunaan AI dikatakan tidak tepat ketika AI dijadikan alat pengganti dalam berpikir bukan menjadi alat pembantu dalam berpikir.
Pembahasan mengenai pengaruh penggunaan kecerdasan buatan (AI) terhadap penurunan kemampuan berpikir kritis siswa menjadi isu yang penting dan relevan untuk dibahas. Pembahasan tidak dimaksudkan untuk menolak atau menghambat pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan, melainkan bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif dan kritis mengenai implikasi penggunaannya terhadap proses berpikir siswa. Pemanfaatan AI diharapkan dapat diarahkan secara bijak, terkontrol, dan proporsional sehingga tidak menggeser peran esensial peserta didik dalam berpikir analitis, reflektif, dan mandiri. Penggunaan AI yang terintegrasi secara tepat justru dapat berfungsi sebagai sarana pendukung yang memperkuat pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa, sejalan dengan tujuan utama pendidikan di era digital.
PEMBAHASAN
Frekuensi dan Bentuk Penggunaan AI dalam Kegiatan Belajar terhadap Penurunan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa
Genrasi yang tumbuh dan berkembang di era digital menunjukkan perubahan yang signifikan dalam pola pencarian informasi. Kemajuan teknologi, khususnya kehadiran kecerdasan buatan (AI), telah menggantikan kebiasaan belajar siswa dari aktivitas membaca buku menuju penggunaan AI sebagai sumber utama dalam menyelesaikan masalah akademik. Penelitian mengungkapkan bahwa generasi muda cenderung lebih mengandalkan AI dibandingkan buku teks atau sumber bacaan ilmiah karena dianggap lebih praktis, cepat, dan mudah diakses. Pergeseran tersebut mencerminkan perubahan preferensi belajar yang berpotensi memengaruhi kualitas proses berpikir siswa.
Meskipun AI mampu menyediakan solusi secara cepat dan efisien, penggunaan yang berlebihan tanpa kontrol yang sesuai dapat berdampak negative terhadap perkembangan kemampuamm berpikir kritis. Penggunaan AI dengan intensitas tinggi sering kali tidak disertai dengan proses berpikir mandiri, seperti menelaah sumber, membandingkan informasi, atau merefleksikan jawaban yang diperoleh. Akibatnya, siswa terbiasa menerima jawaban instan tanpa melalui tahapan kognitif yang mendalam. Kondisi tersebut sejalan dengan penelitian yang menhyatakan bahwa ketergantungan pada AI dapat menurunkan keterlibatan kognitif siswa dalam proses pembelajaran terutama pada aspek analisis dan evaluasi informasi (Cholvistaria et al.,2025).
Kemampuan berpikir kritis tidak hanya diukur dari hasil akhir berupa jawaban, melainkan dari proses mental yang dilalui individu dalam memahami dan memecahkan masalah. Facione mengemukakan enam indikator utama berpikir kritis yaitu interpretasi, analisis, inferensi, evaluasi, eksplanasi, dan regulasi diri. Keenam indikator tersebut memiliki keterkaitan dengan cara individu mengolah informasi secara efektif dan rasional. Ketika siswa menjadikan AI sebagai sumber utama tanpa melakukan verifikasi atau pemaknaan ulang, maka sebagian besar indikator berpikir kritis tersebut tidak dapat dilakukan secara optimal.
Penggunaan AI yang tidak diimbangi dengan strategi pembelajaran yang mendorong kemandirian berpikir berpotensi menghambat pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa. Kecerdasan buatan (AI) seharusnya diposisikan sebagai alat bantu untuk memperkaya proses analisis dan eksplorasi pengetahuan, bukan sebagai pengganti aktivitas berpikir. Diperlukan peran aktif pendidik dalam mengarahkan penggunaan AI agar tetap selaras dengan tujuan pembelajaran yang menekankan penguatan kemampuan berpikir kritis, khususnya di tengah tantangan pembelajaran di era digital (Pare et al.,2023)
Bentuk peamanfaatan kecerdasan buatan (AI) juga memiliki pengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Kecerdasan buatan AI digunakan bukan sebagai alat bantu dalam berpikir, melainkan menjadi pengganti aktivitas berpikir siswa. Bentuk ini dapat terllihat dari pemanfaatan AI untuk menjawab soal secara instan, Menyusun essai tanpa melalui proses analisis pribadi, serta merangkum sebuah materi pembelajaran tanpa membaca dan memahami sumber utamanya. Pola pemanfaatan seperti ini bersifat subtitutif, karena AI mengambil proses berpikir yang seharusnya dilakukan oleh siswa. Penggunaan AI secara subtitutif berpotensi melemahkan berpikir kritis, karena siswa tidak dilatih menjalani indikator berpikir kritis yang diungkapkan dalam teori Facione. Kemampuan berpikir kritis mencakup beberapa indikator utama seperti interpretasi, analisis, inferensi, evaluasi, eksplanasi, dan regulasi diri.
Lebih lanjut, jika ditinjau dari prespektif taksonomi bloom, berpikir kritis menempati level kemampuan berpikir tingkat tinggi, yaitu pada tahap menganalisis (analyzing), mengevaluasi (evaluating), dan mencipta (creating). Taksonomi bloom mengklasifikasikan tujuan pembelajaran mulai dari kemampuan kognitif dasar seperti mengingat (remembering) hingga kemampuan kompleks yang menuntut penalaran mendalam dan kritis. Penggunaan AI yang hanya berorientasi pada hasil akhir menyebabkan siswa cenderung bertahan pada level kognitif rendah, seperti mengingat dan memahami, tanpa dilatih untuk melakukan analisis, penilaian kritis, maupun penciptaan gagasan baru (Marta et al.,2025)
Dengan demikian, bentuk pemanfaatan AI yang tidak tepat dapat mengahambat pencapaian tujuan pembelajaran yan berorientasi pada pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Kecerdasan buatan (AI) seharusnya dimanfaatkan sebagai alat pendukung yang mendorong siswa untuk mengeksplorasi ide, menguji argumen, dan merefleksikan pemahamannya, bukan sebagai pengganti proses berpikir. Diperlukan strategi pembelajaran yang mampu mengarahkan penggunaan AI secara konstruktif agar tetap selaras dengan pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa di era digital (Cholvistaria et al.,2025).
Integrasi Penggunaan AI Secara Bijak terhadap Pengurangan Penurunan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa
Integrasi kecerdasan buatan AI dalam penerapnnya di dunia pendidikan tidak hanya sekadar pengenalan teknologi baru, tetapi memiliki potensi untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Integrasi penggunaan AI dalam pembelajaran, AI dapat digunakan untuk menyajikan pertanyaan pemantik berpikir tingkat tinggi (HOTS) yang dapat melatih siswa untuk menganalisis argumen, mempertimbangkan hubungan antar ide, dan mengevaluasi alternatif yang kompleks (Arifudin et al.,2025). Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa integrasi AI dalam pendiidikan dapat meningkatkan kualitas pengajaran dengan mengurangi beban kerja guru, sehingga guru memeiliki lebih banyak waktu untuk berfokus pada pengembangan pengajaran dan peningkatan hasil belajar siswa (Hashem et al.,2024 dalam Arifudin 2025). Pendekatan penggunaan kecerdasan buatan AI ini juga dapat menyederhanakan proses dengan memungkinkan guru menghasilkan pertanyaan berdasarkan referensi dari buku ajar, sehingga lebih efektif dalam mengevaluasi keterampilan berpikir tingkat tinggi.
Kecerdasaan buatan (AI) dapat dimanfaatkan sebagai alat utama yang memudahkan untuk membuat pertanyaan dengan kualitas tinggi dengan lebih efisien. Kemudahan tersebut tentunya dapat membantu siswa ataupun mahasiswa untuk lebih kritis dalam merumuskan sebuah masalah. Kecerdasan buatan misalnya chat gpt memungkinkan pendidik untuk menghasilkan pertanyaan menggunakan promt yang sesuai. Promt engineering, yaitu proses merancang dan Menyusun input untuk mencapai output yang diinginkan, menjadi elemen krusial dalam memaksimalkan potensi Chat GPT untuk dapat menunjag kualitas pendidikan dan kemampuan berpikir kritis siswa (Arifudin et al.2025). Pemanfaatan penggunaan ChatGPT dengan promt yang spesifik dan jelas maka akan menghasilkan pertanyaan HOTS yang dapat menjadi pemantik siswa untuk selanjutnya dapat mengkritisi sebuah persoalan yang akan dipelajari.
Kecerdasan buatan (AI) tidak hanya berperan memberikan jawaban akhir, tetapi dapat dimanfaatkan untuk mengeksplor berbagai alternatif peneyelesaian masalah. Melalui penerapan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) yang didukung oleh AI peserta didik dihadapkan pada permasalahan yang menuntut peserta didik untuk mengalasis permasalahan secara beragam dan kemampuan untuk memecahkan masalah. Pembelajaran berbasis masalah (PBL) adalah model pembelajaran yang melibatkan siswa dalam peran aktif menyelesaikan masalah yang ada di dunia nyata. Keterampilan berpikir kritis telah terbukti dapat ditingkatkan dengan metode model pembelajaran berbasis masalah (PBL). Proses menganalisis dan problem solving memungkinkan siswa mengembangkan pola pikir yang lebih komprehensif sehingga kemampuan berpikir kritis dapat terasah secara rutin (Nujum et al.,2025).
Salah satu strategi yang efektif untuk menggunakan AI dengan baik yaitu penerapan problem based learning (PBL) berbantuan AI. Model tersebut siswa dihadapkan pada permasalahan konstektual yang menuntut kemampuan berpikir Tingkat tingggi, seperti mengidentifikasi masalah, menganalisis informasi, serta merumuskan dan mmengevaluasi berbagai alternatif Solusi. Kecerdasan buatan (AI) dimanfaatkan sebagai saraana eksplorasi informasi dan simulasi pemecahan masalah, sementara pengambilan keputusan tetap berada pada proses berpikir siswa. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa PBL berbantuan AI mampu meningkatkan keterlibatan kognitif dan keterampilan berpikir kritis karena mendorong siswa terlibat aktif dalam proses pemecahan masalah (Nujum et al.,2024)
Selain PBL, project based learning (PJBL) dengan dukungan AI juga berperan dalam meningkatkan keterlibatan kognitif siswa. Melalui pembelajaran berbasis proyek, siswa memanfaatkan AI sebagai sumber eksplorasi ide, pengolahan data, dan pengembangan produk pembelajaran. Proses tersebut menuntut siswa untuk merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi proyek secara mandiri maupun kolaboratif, sehingga aktivitas belajar tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga pada proses berpikir, refleksi, dan pengambilan keputusan yang kritis. Integrasi AI dalam PJBL terbukti dapat meningkatkan kemandirian belajar serta kemampuan berpikir kritis siswa (Zaini et al.,2025).
Strategi pembelajaran lainnya yaitu diskusi reflektif berbasis hasil keluaran AI. Metode tersebut memungkinkan output AI digunakan sebagai bahan diskusi kritis yang dievaluasi bersama oleh siswa dengan bimbingan guru. Siswa diarahkan untuk menilai keakuratan, relevansi, dan logika jawaban yang dihasilkan AI, serta membandingkannya dengan pemikiran sendiri. Aktivitas tersebut mendorong siswa untuk tidak menerima informasi secara pasif, tetapi mengembangkan kemampuan refleksi, argumentasi, dan literasi digital kritis (Cholvistaria et al.,2025). Penerapan strategi pembelajaran berbasis AI melalui PBL,PJBL, dan diskusi reflektif dirancang untuk memastikan bahwa siswa tetap terlibat aktif secara kognitif.
Keberhasilan integrasi penggunaan AI dalam proses pembelajaran bergantung pada bagaimana peran aktif guru sebagai tenaga pendidik untuk mengarahkan penggunaan teknologi agar sesuai dengan tujuan pembelajaran. Kolaborasi manusia dan mesin pada era society 5.0 di bidang pendidikan menempatkan AI sebagai co-creator dalam proses belajar, sementara guru menjadi mediator yang memastikan proses belajar tetap berpihak kepada kebutuhan peserta didik (Fati et al.,2024 dalam Hadi et al.,2025). Pemanfaatan AI juga membuka peluang bagi guru untuk mengelola kelas secara lebihh efektif dengan data analitik belajar yang diperoleh secara real time, sehingga intervensi pembelajaran dapat dilakukan secara tepat sasaran. Penggunaan AI dalam pendidikan menuntut guru untuk memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, serta keterampilan untuk merancang pembelajaran berbasis masalah, proyek, kolaborasi yang dapat memanfaatkan keunggulan teknologi tanpa mengurangi nilai interaksi sosial dalam pembelajran (Purwanti et al.,2024 dalam Hadi et al.,2025).
Guru yang mampu mengintegrasikan AI secara bijak akan membantu peserta didik untuk tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki karakter yang baik dalam memanfaatkan teknologi. Pembagian peran antara guru dan AI menjadi hal yang penting untuk diperhatikan agar tercipta harmoni dalam proses belajar mengajar. Guru memiliki peran fasilitator, motivator, dan penjamin kualitas interaksi sosial, sementara AI berperan sebagai asisten dalam penyediaan materi, analisis data belajar, serta personalisasi pembelajaran berdasarkan capaian siswa (Asmara, 2023 dalam Hadi et al.,2025).pembagian peran mendukung terciptanya lingkungan belajar yang kolaboratif, efektif, dan responsive terhadap kebutuhan peserta didik, tanpamenghilangkan nilai empati, perhatian, dan sentuhan manusiawi yang hanya dapat diberikan oleh seorang pendidik.
Pendidik perlu dibekali dengan pengetahuan mengenai kelebihan dan keterbatasan AI agar dapat mengambil keputusan yang tepat dalam menggunakan teknologi untuk mendukung pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Selain penguasaan literasi AI, pelatihan dan pengembangan professional bagi guru menjadi kunci dalam memastikan kesiapan pendidik menghadapi transformasi digital. Pelatihan tersebut perlu dirancang secara berkelanjutan dan adaptif, dengan fokus pada penguasaan teknologi berbasis AI dalam pembelajaran, pengembangan konten digital, serta penyusunan model pembelajaran inovatif yang rlevan ddengan tuntutan abad ke-21 (Asmara et al.,2023 dalam Hadi et al.,2025). Dengan adanya pelatihan yang sistematis, guru dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam memanfaatkan AI serta mampu mengintegrasikannya dalam praktik pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Implikasi Penggunaan AI terhadap Penurunan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa
Kecerdasan buatan (AI) meskipun memberi manfaat dengan kemudahan dan kecepatan akses informasi dan penyusunan teks, ketergantungan yang berlebihan terhadap AI memiliki potensi untuk menngurangi kemampuan literasi dan argumentasi. Minat baca merupakan fondasi penting dalam pembentukan kualitas intelektual dan akademik mahasiswa (Hasim et al., 2023 dalam Noviandri et al.,2025). Ketika siswa hanya menggunakan AI untuk menghasilkan jawaban tanpa proses refleksi, pencarian sumber lain, atau verifikasi kritis maka ada latihan penting yang dilewatkann yaitu mengevaluasi kualitas informasi, Proses- proses tersebut mencakup kemampuan menilai kualitas informasi, menyusun gagasan secara runtut, serta membangun argument yang didukung oleh bukti yang kuat. Jika pola belajar tersebut berlangsung secara terus menerus dalam jangka panjang, maka hal tersebut berpotensi melemahkan literasi kritis dan daya argumentatif mahasiswa, padahal kedua kompetensi tersebut merupakan fondasi utama dalam dunia akdemik dan profesional.
Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) secara berlebihan dalam kegiatan pembelajaran tidak semata-mata menghadirkan kemudahan dalam memperoleh informasi, tetapi juga berpotensi menurunkan tingkat keterlibatan kognitif peserta didik. Ketika siswa lebih sering melakukan cognitive offloading yaitu memindahkan beban pikiran kepada sistem AI daripada mengolahnya sendiri (Magfiroh et al., 2025). Hal tersebut berpotensi membuat siswa menerima jawaban tanpa memlakukan verifikasi secara kritis, sehingga keterampilan berpikir kritis siswa tidak terlatih secara optimal. Situasi tersebut mendorong siswa untuk menerima informasi secara pasif tanpa mempertanyakan kebenaran sumber atau melakukan evaluasi kritis terhadap jawaban yang diperoleh. Oleh karena itu, kemampuan berpikir kritis siswa tidak berkembang secara maksimal, yang menunjukkan bahwa pencapaian hasil akademik secara cepat melalui AI tidak selalu sejalan dengan penguatan kapasitas kognitif yang mendalam apabila tidak disertasi pengawasan serta perancangan pedagogis yang memadai.
Praktik penggunaan AI yang tidak etis dalam pembelajaran juga berpotensi merusak budaya akademis secara lebih luas. Integritas akademik sejatinya dibangun melalui nilai kejujuran, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap proses intelektual. Ketika AI digunakan secara tidak proporsional, peserta didik berisiko mengembangkan sikap yang mengutamakan hasil instan dibandingkan proses belajar. Penelitian menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap AI berkorelasi dengan menurunnya kesadaran akademik dan tanggung jawab intelektual mahasiswa, terutama dalam konteks penyusunan tugas dan karya ilmiah. Tanpa pengendalian dan pedoman etis yang memadai, penggunaan AI berpotensi mengikis nilai-nilai fundamental pendidikan dan merusak integritas proses akademik secara berkelanjutan.
Kecerdasan buatan (AI) juga memiliki dampak selain daripada penurunan kemampuan berpikir kritis yaitu memiliki implikasi pada berkurangnya kemandirian belajar peserta didik. Kemudahan akses terhadap Solusi instan yang ditawarkan oleh kecerdasan buatan (AI) memiliki potensi membentuk pola belajar yang pasif, sehingga mahasiswa cenderung enggan atau mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas akademik secara mandiri tanpa dukungan AI. Apabila kondisi ini berlangsung secara berkelanjutan, kemampuan untuk menjaga disiplin mental, ketekunan intelektual, serta ketahanan kreatif peserta didik dapat mengalami penurunan. Sejalan dengan hal tersebut (Putra dan Astuti 2025) mengemukakan bahwa tingkat ketergantungan terhadap AI memiliki hubungan dengan mmelemahnya kemampuan berpikir kritis dan kemandirian akademik mahasiswa, khususnya ketika AI di alihfunsikan sebagai pengganti proses berpikir, bukan sarana pendukung pembelajaran.
Menurut (loupatty 2025 dalam Putra 2025), meningkatnya penggunaan AI dalam penyelesaian tugas-tugas kuliah bisa menghambat perkembangan kemampuuan berpikir kritis mahasiswa. Loupatty menjelaskan bahwa saat mahasiswa terlalu bergantung pada AI, mahasiswa cenderung menyelesaikan tugas tanpa benar-benar tanpa memahami isinya. Akibatnya, keterlibatan siswa dalam proses berpikir menjadi minim. Mahasiswa kini lebih memilih jawaban instan dibandingkan membangun pemahaman melalui proses berpikir yang mendalam (Utari et al.,2024 dalam Putra et al.,2025). Teori yang dipaparkan menunjukkan pergeseran dalam proses belajar yang awalnya aktif dan eksploratif menjadi pasif dan konsumtif, ketika siswa hanya mengonsumsi jawaban dari AI tanpa adanya keseimbangan berpikir siswa terhadap apa yang diperoleh dari AI, hal ini merupakkan salah satu ciri dari ketergantungan penggunaan AI.
(Hernandez 2024 dalam Putra et al.,2025) dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) menemukan bahwa mahasiswa dengan tingkat kemalasan metakognitif tingkat tinggi cenderung menerima jawaban dari AI tanpa melakukan verifikasi atau evaluasi. Ketergantungan penggunaan AI di ruang kelas dapat menghambat kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti evaluasi dan penilaian. Ketergantungan tersebut dapat menurunkan daya intelektual mahasiswa dalam menyelesaikan persoalan yang kompleks secara mandiri. Selanjutnya penggunaan AI juga dapat menurunkan akurasi dalam memahami bacaan, namun belum menyentuh aspek berpikir kritis secara menyeluruh. Proses pembelajaran yang ideal seharusnya mendorong siswa untuk membandingkan berbagai sumber, menilai kebenaran informasi, serta menarik Kesimpulan berdasarkan argumentasi yang logis. Namun, penggunaan AI secara tidak terkontrol justru berpotensi menggantikan tahapan kognitif dengan solusi instan tanpa adanya verifikasi kebenaran dari berbagai sumber. Akibatnya, daya intelektual mahasiswa dalam menyelesaikan persoalan kompleks secara mandiri menjadi melemah, karena terbiasa bergantung pada hasil akhir tanpa memamhami proses berpikir.
Jika penurunan kemampuan berpikir kritis tidak dapat diantisipasi secara sistematis, penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang tidak terkontrol dalam pendidikan memiliki potensi terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan. Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu kompetensi dasar yang dibutuhkan dalam menghadapi tantangan di dunia kerja, perubahan teknologi, dan tantangan sosial ekonomi yang semakin dinamis (Pare et al., 2023). Individu dengan kemampuan berpikir kritis yang rendah cenderung mengalami kesulitan dalam menganalisis permasalahan, mengambil keputusan strategis, dan menyesuaikan diri dengan situasi yang menuntut penalaran mendalam dan pemecahan masalah yang inovatif. Dunia kerja modern kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu indikator utama kualitas SDM yang berdaya saing. Era digital dan otomasi menuntut tenaga kerja yang tidak hanya mampu menggunakann teknologi, tetapi juga mampu mengevaluasi informasi, berpikir reflektif, serta mengambil keputusan secara rasional dan etis. Ketergantungan berlebihan pada AI yang menggantikan proses berpikir manusia beresiko menghasilkan lulusan yang unggul secara teknis, tetapi lemah dalam aspek penalaran, kreativitas, dan kemandirian intelektual.Kondisi ketergantungan terhadap AI dapat menghambat kemampuan adaptasi individu terhadap perubahan lingkungan kerja yang bersifat kompleks dan tidak terstrukur.
KESIMPULAN
Berdasrkan pembahasan yang telah diuraikann bahwa penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia pendidikan memiliki pengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa di era digital.integrasi AI dalam proses pembelajaran menghadirkan kemudahan akses informasi dan efisiensi dalam penyeesaian tugas akademik. Namun, di sisi lain pemanfaatan AI yang tidak terkontrol juga memunculkan tantangan serius, terutama ketika teknologi tersebut digunakan secara berlebihan tanpa disertai dengan penguatan proses akademik.Penggunaan AI dengan frekuensi tinggi cenderung bersifat subtitutif artinya AI digunakan sebagai pengganti proses berpikir, menganalisis, memecahkan masalah, serta mendorong siswa untuk bergantung pada solusi instan.
Implikasi penggunaan kecerdasan buatan terhadap kemampuan berpikir kritis siswa mencakup dimensi pedagogis, etis, dan kebijakan pendidikan yang saling berkaitan. Dari sisi pedagogis, pemanfaatan AI menuntut adanya desain pembelajaran yang secara konsisten menekankan proses berpikir, penalaran logis, dan reflektif kritis, meskipun teknologi AI digunakan dalam kegiatan belajar. Pembelajaran tidak boleh hanya berorientasi pada hasil akhir yang dihasilkan oleh AI, melainkan harus mendorong siswa untuk terlibat aktif dalam menganalisis informasi, mengevaluasi argument, serta membangun pemahaman secara mandiri melalui bimbingan pendidik. Ditinjau dari aspek etis, penggunaan AI dalam pembelajaran menuntut penguatan kesadaran akademik siswa agar tidak memanfaatkan teknologi secara pasif dan tidak kritis
Integrasi AI yang terarah memiliki relevansi kuat dengan pengembangan pembelajaran abad ke-21 yang menekankan transformasi dari pembelajaran berpusat pada guru menuju pembelajaran berpusat pada siswa. Pembelajaran abad ke-21 menuntut penguasaan keterampilan 4C, yaitu berpikir kritis (critical thinking), komunikasi (communication), kolaborasi (collaboration), dan kreativitas (creativity), serta penguatan literasi digital, kemampuan pemecahan masalah, dan keterampilan hidup. Dalam konteks ini, AI dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendukung untuk mendorong kolaborasi, eksplorasi ide, dan pemecahan masalah autentik, sehiingga siswa lebih siap menghadapi tantangan dunia nyata semakin kompleks. Dengan pendekatan yang komprehensif dan terintegrasi, penggunaan AI di era digital diharapkan tidak hanya meminimalkan risiko penurunan kemampuan berpikir kritis, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kualitas pembelajaran dan pengembangan kompetensi siswa secara berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Arifuddin, N. A., Amalia, R. D., & Setyadinsa, R. (2025). Mendorong inovasi pendidikan melalui integrasi AI dalam pengembangan pertanyaan HOTS.
Cholvistaria, M., & Gunawan, A. (2025). Pengaruh Artificial Intelligence (AI) terhadap Berpikir Kritis Mahasiswa. POACE: Jurnal Program Studi Administrasi Pendidikan, 5(1), 1–8.
Febriani, S., Zakir, S., & Sari, F. (2023). Penggunaan QuillBot dan ChatGPT dalam Peningkatan Pemahaman Penulisan Artikel Mahasiswa Pascasarjana PAI di UIN Padang. Idarah Tarbawiyah: Journal of Management in Islamic Education, 4(3), 272–279. https://doi.org/10.32832/itjmie.v4i3.15599
Firdaus, J. A., Ummah, R. I., Aprialini, R. R., Fithriyyah, A., Mahsusi, M., & Faizin, A. (2025). Ketergantungan Penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) pada Tugas Akademik Mahasiswa terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 14(1), 1203–1214.
Hadi, J. K., Latifah, H., Fuadi, D. A., Fauzan, F., Christiana, Y., Hidayat, T., & Rifa’i, R. I. (2025). Kolaborasi Manusia–Mesin dalam Pendidikan: Strategi Guru Beradaptasi dengan Teknologi AI. RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business, 4(2), 6329–6333.
Haryanti, H., Susongko, P., & Arfiani, Y. (2024). Pengembangan Instrumen Penilaian Berpikir Kritis Menurut Facione pada Pembelajaran IPA di Sekolah Menengah Pertama Berbasis Model Rasch. PSEJ (Pancasakti Science Education Journal), 9(1), 78–87.
Maghfiroh, U., & Widhiastuti, R. (2025). Kemampuan Berpikir Kritis: Bagaimana Ketergantungan AI dan Cognitive Offloading menjadi Faktor yang Memengaruhi dengan Diperkuat oleh Adversity Quotient. Jurnal Studi Guru dan Pembelajaran, 8(3), 1464–1478.
Marta, M. A., Purnomo, D., & Gusmameli, G. (2025). Konsep Taksonomi Bloom dalam Desain Pembelajaran. Lencana: Jurnal Inovasi Ilmu Pendidikan, 3(1), 227–246.
Noviandri, Y., Herwati, K., Suparno, S., Rosidi, M. I., & Latief, N. F. (2025). Pengaruh Penggunaan AI (ChatGPT) terhadap Minat Baca, Pola Pikir, dan Kemampuan Akademis Mahasiswa (kajian studi literatur). Indonesian Journal of Social Science, 3(2), 78–86.
Nujum, N., & Hadi, M. S. (2025). Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Berbantuan Media AI terhadap Peningkatan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa di Sekolah Dasar. JIIP: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 8(2), 1333–1341.
Pare, A., & Sihotang, H. (2023). Pendidikan Holistik untuk Mengembangkan Keterampilan Abad ke-21 dalam Menghadapi Tantangan Era Digital. Jurnal Pendidikan Tambusai, 7(3), 27778–27787.
Pratiwi, J. A., Mirza, A., & Nursangaji, A. (2016). Kemampuan Berpikir Kritis Aspek Analisis Siswa di Sekolah Menengah Atas (Disertasi doktoral). Universitas Tanjungpura.
Putra, A. P., Akbar, S. D., Setyosari, P., & Praherdhiono, H. (2024). Analisis Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Pendidikan terhadap Kualitas Pembelajaran di Sekolah Dasar. Ilmu Pendidikan: Jurnal Kajian Teori dan Praktik Kependidikan, 9(2), 99–105.
Zaini, M., Wardani, M., & Gina, M. (2025). INTEGRASI KECERDASAN BUATAN (AI) DALAM PEMBELAJARAN: DAMPAKNYA PADA LITERASI DIGITAL DAN BERPIKIR KRITIS SISWA. Maulana Atsani: Jurnal Pendidikan Multidisipliner, 1(4), 151-157.
Pengaruh Penggunaan AI terhadap Penurunan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa di Era Digital
