Teheran, Jobuzo — Bagi Reza, sopir taksi berusia 34 tahun di Teheran, Senin, 15 Juni, tampak seperti hari biasa. Ia memulai pagi dengan mencuci taksinya, lalu berangkat menuju Alun-alun Enghelab untuk menunggu penumpang pertama.
Namun, bagi Teheran dan dunia internasional, hari itu bukan hari yang sepenuhnya biasa. Pada Senin dini hari, Amerika Serikat dan Iran mengumumkan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang setelah lebih dari tiga bulan konflik.
Kesepakatan tersebut disambut banyak pihak sebagai langkah penting menuju stabilitas kawasan Timur Tengah. Meski demikian, bagi sebagian warga Teheran yang selama setahun terakhir merasakan dampak serangan udara AS dan Israel, pengumuman itu belum cukup untuk menghadirkan rasa aman.
Reza mengaku belum bisa sepenuhnya percaya pada janji perdamaian dari Washington. Menurutnya, warga Iran telah mengalami terlalu banyak tekanan sehingga perayaan atas kesepakatan tersebut terasa terlalu dini.
“Kami hanya ingin melanjutkan hidup,” ujar Reza kepada Xinhua.
Keraguan itu muncul karena pengalaman sebelumnya. Setahun lalu, AS disebut melancarkan serangan terhadap Iran ketika proses perundingan masih berlangsung. Konflik terbaru juga pecah di tengah negosiasi antara Washington dan Teheran. Rangkaian peristiwa tersebut menimbulkan kerugian besar bagi Iran sekaligus mengikis kepercayaan publik terhadap AS.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi, menegaskan bahwa memorandum kesepakatan tersebut bukan dibangun atas dasar kepercayaan kepada pihak lawan. Sebaliknya, dokumen itu disusun justru karena tidak adanya kepercayaan.
Di tengah suasana hati-hati itu, sebagian warga Iran tetap menyimpan harapan. Mereka berharap kesepakatan tersebut dapat menjadi awal dari perubahan, terutama jika diikuti pencabutan sanksi dan penghentian tindakan yang merugikan Iran.
Asghar Sorkhin, pemilik toko berusia 47 tahun, mengatakan permusuhan yang telah berlangsung lebih dari empat dekade tidak mungkin selesai hanya dalam waktu singkat. Ia mengingat kembali keputusan AS pada 2018 yang membatalkan kesepakatan nuklir Iran dan kembali memberlakukan sanksi berat terhadap rakyat Iran.
Meski belum merasa layak untuk merayakan, Sorkhin mengakui adanya sedikit harapan. Menurutnya, jika AS benar-benar menepati komitmen kali ini, masyarakat Iran mungkin dapat merasakan kelegaan setelah bertahun-tahun hidup di bawah tekanan.
Sikap serupa juga disampaikan Maryam, perawat berusia 30 tahun di sebuah rumah sakit di Teheran. Di sela aktivitasnya menyiapkan obat dan menangani pasien, ia mengatakan bahwa proses diplomasi tetap perlu dilanjutkan, tetapi dengan sikap waspada.
Menurut Maryam, perang dan blokade angkatan laut AS telah memberi dampak besar terhadap kehidupan masyarakat. Karena itu, penghentian konflik menjadi hal yang sangat dibutuhkan.
Namun, ia menegaskan tidak akan merayakan apa pun sebelum tercapai kesepakatan akhir yang benar-benar komprehensif. Baginya, menjalani kehidupan secara normal dan tetap waspada merupakan bentuk keteguhan warga Iran menghadapi situasi yang tidak menentu.
Maryam juga menyatakan keyakinannya bahwa para pejabat Iran akan menjaga kepentingan nasional dan martabat negara dalam setiap proses lanjutan.
Di jalan-jalan Teheran, aktivitas masyarakat tetap berlangsung seperti biasa. Kendaraan berlalu-lalang, warga menjalankan rutinitas, dan cuaca cerah menyelimuti kota. Tidak ada sorak-sorai, tidak ada perayaan besar.
Begitulah suasana Teheran pada hari pertama setelah kesepakatan AS-Iran diumumkan. Kota itu tetap bergerak dengan ritmenya sendiri, sambil menunggu arah perkembangan berikutnya. (Xinhua)
Teheran Tetap Waspada Usai AS-Iran Sepakati Gencatan Senjata
