Penulis: Tri Pujiati
Jobuzo – Saat ini banyak orang tua dan pendidik memiliki harapan besar agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berprestasi, dan mampu bersaing di tengah perkembangan zaman. Namun, tidak sedikit yang lupa bahwa pendidikan dalam Islam bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan perjalanan panjang membentuk iman, akhlak, dan kepribadian sesuai tahapan pertumbuhan yang telah Allah tetapkan. Kesalahan memahami fase perkembangan anak sering kali menyebabkan pendidikan kehilangan arah. Anak dipaksa dewasa sebelum waktunya atau justru dibiarkan tanpa bimbingan ketika sangat membutuhkannya.
Al-Qur’an sendiri menggambarkan bahwa manusia diciptakan melalui tahapan yang bertingkat, mulai dari janin, bayi, anak-anak, hingga mencapai kekuatan dan kedewasaan. Allah berfirman:
“Kemudian Kami mengeluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa…” (QS. Al-Hajj: 5).
Materi Tahapan Pendidikan Masa Kanak-Kanak hingga baligh berdasarkan Arahan Al-Qur’an menjelaskan bahwa Allah tidak menetapkan batasan fase kehidupan manusia secara kaku. Hal ini merupakan bentuk rahmat agar manusia dapat berkembang sesuai kapasitas dan kondisi masing-masing, sekaligus membuka ruang bagi kajian ilmu pengetahuan untuk memahami perkembangan manusia secara lebih rinci.
Pemahaman ini memberikan pelajaran penting bahwa pendidikan harus disesuaikan dengan tahap pertumbuhan anak. Setiap fase memiliki kebutuhan yang berbeda dan tidak dapat disamakan. Pendidikan yang memaksakan target di luar kemampuan usia anak justru dapat menghambat perkembangan fitrahnya.
Bahkan sebelum seorang anak lahir, Islam telah memulai proses pendidikan melalui pemilihan pasangan hidup yang saleh dan persiapan membangun keluarga beriman. Al-Qur’an mengabadikan doa Nabi Ibrahim:
“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu dan jadikanlah di antara keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu.” (QS. Al-Baqarah: 128).
Ayat ini menegaskan bahwa tarbiyah telah dimulai sejak masa pra-kelahiran, dengan tujuan melahirkan generasi yang taat kepada Allah dan mampu memikul amanah kehidupan.
Setelah anak lahir, fase penyusuan menjadi bagian penting dari pendidikan. Allah memerintahkan agar para ibu menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan (QS. Al-Baqarah: 233). Dalam ayat ini dijelaskan bahwa para ulama memandang ASI bukan hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga memiliki pengaruh terhadap pembentukan karakter dan ikatan emosional anak. Bahkan pemilihan ibu susuan diperhatikan karena akhlak dan makanan yang dikonsumsinya diyakini memberi dampak terhadap perkembangan bayi.
Ketika memasuki masa kanak-kanak, Islam memandang anak sebagai amanah yang lahir di atas fitrah. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
Hadist ini menunjukkan bahwa lingkungan keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap arah kehidupan seorang anak. Hadist tersebut menegaskan bahwa orang tua adalah teladan utama yang akan ditiru oleh anak dalam perilaku dan tindakannya. Oleh sebab itu, Allah menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai uswatun hasanah atau teladan terbaik bagi umat manusia.
Pandangan ini selaras dengan nasihat Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah yang menjelaskan bahwa kerusakan banyak anak berawal dari kelalaian orang tua dalam mendidik mereka. Anak yang tidak dibiasakan dengan akhlak mulia sejak kecil akan tumbuh membawa kebiasaan buruk hingga dewasa. Karena itu, pendidikan karakter tidak dapat ditunda.
Sirah Nabi ﷺ juga memberikan contoh yang sangat indah. Rasulullah tidak hanya mengajarkan hukum kepada anak-anak, tetapi menanamkan akidah dengan penuh kelembutan. Ketika Abdullah bin Abbas masih kecil, beliau memboncengkannya di atas kendaraan lalu bersabda:
“Wahai anak kecil, jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu…”
Nasihat singkat tersebut menanamkan tauhid, tawakal, dan keyakinan kepada Allah sejak usia dini. Ini memasukkan hadis tersebut sebagai salah satu fondasi dalam membangun akidah anak sebelum mereka mencapai usia baligh.
Memasuki usia tujuh tahun, Rasulullah ﷺ memberikan arahan yang sangat sistematis:
“Perintahkan anak-anak kalian untuk melaksanakan salat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (dengan pukulan yang mendidik) jika meninggalkannya pada usia sepuluh tahun…”
Hadist ini menunjukkan bahwa Islam tidak menunggu anak baligh untuk mengenal ibadah. Justru sebelum baligh, anak dibiasakan melalui latihan bertahap sehingga ketika menjadi mukallaf, salat telah menjadi bagian dari kehidupannya. Hadist tersebut menjelaskan bahwa tiga tahun antara usia tujuh hingga sepuluh tahun merupakan masa pembiasaan yang sangat penting.
Di masa setelah baligh, tantangan semakin besar. Perubahan biologis, gejolak emosi, dan pengaruh lingkungan menjadikan fase ini sebagai masa yang menentukan arah masa depan seseorang. Oleh karena itu, Islam mengajarkan tarbiyah al-jinsiyah, yaitu pendidikan seksual berbasis agama dan moral agar anak memahami identitas dirinya, menjaga rasa malu, memelihara kehormatan, dan mengarahkan naluri sesuai syariat.
Kondisi ini sangat relevan dengan zaman sekarang. Arus media sosial membuat anak-anak terpapar berbagai informasi tanpa penyaringan. Jika keluarga tidak hadir sebagai benteng pendidikan, maka internet dan lingkunganlah yang akan mengambil alih peran tersebut. Padahal Rasulullah ﷺ memuji pemuda yang mampu menjaga dirinya dari hawa nafsu dan istiqamah dalam ketaatan kepada Allah.
Pada akhirnya, mendidik anak menurut Al-Qur’an bukan sekadar memastikan mereka sukses secara akademik, melainkan membimbing mereka bertumbuh sesuai fitrah dan tahapan usianya. Pendidikan dimulai sejak memilih pasangan hidup, dilanjutkan dengan pengasuhan yang penuh kasih sayang, penanaman tauhid sejak dini, pembiasaan ibadah sebelum baligh, hingga pendampingan intensif saat memasuki masa baligh.
Inilah manhaj pendidikan para nabi dan para ulama: membangun manusia dari pondasi hati sebelum kecerdasan, dari akidah sebelum keterampilan, dan dari keteladanan sebelum nasihat. Ketika prinsip-prinsip ini dihidupkan kembali, insya Allah akan lahir generasi rabbani yang mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan iman dan identitasnya.
Mendidik Anak Sesuai Tahapannya: Jalan Al-Qur’an Membangun Generasi Rabbani