Jobuzo – Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat oleh tim dosen jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Bengkulu yang terdiri Dr. Betty Yosephin, SKM, MKM, Arie Krisnasary, M.Biomed, Ahmad Rizal, SKM, MM dan Kusdalinah, SST. MGz, serta mahasiswa gizi, Lokasi kegiatan di Desa Sri Kuncoro Bengkulu Tengah.
Kegiatan Pengabdian Masyarakat Skema Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) di Desa Sri Kuncoro Bengkulu Tengah, bermitra dengan remaja melalui Karang Taruna, Remaja Masjid dan kader remaja serta Puskesmas Sri Kuncoro. Kegiatan diawali pada tanggal 2 Agustus 2025 melalui diskusi dengan kepala desa dan koordinasi dengan pihak Puskesmas serta kader remaja yang telah dibentuk tahun sebelumnya.
Kekurangan Energi Kronik (KEK) sering terjadi terutama wanita usia subur terutama remaja muncul karena kekurangan asupan energi dan protein dalam jangka lama. Secara nasional KEK pada remaja putri pada umur 15-19 tahun dan tidak hamil mencapai 36,3%. Hal ini berarti dari 10 remaja putri terdapat sekitar 3-4 orang mengalami KEK.
Tentunya KEK tidak bisa didiamkan meskipun tidak menular kepada remaja putri lain namun saat hamil nantinya dapat meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR), pertumbuhan janin terhambat (stunting), menurunnya daya tahan tubuh, mudah lelah, serta berisiko mengalami komplikasi saat kehamilan dan persalinan. Dalam jangka panjang, KEK juga dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia karena anak yang lahir dari ibu dengan KEK berpotensi mengalami hambatan perkembangan fisik maupun kognitif.
Dilanjutkan pada tanggal 23 Agustus 2025 bertpat di Aula Desa Sri Kuncoro, melatih 10 orang remaja putri melakukan deteksi dini atau skrining KEK menggunakan pita LILA, dan menginterpretasikan hasil pengukuran menggunakan cakram edukasi. Salah satu dosen Jurusan Gizi Arie Krisnasary, M. Biomed menyebutkan bahwa media ini akan mempermudah remaja dalam menyampaikan informasi dan melakukan pemeriksaan sederhana terkait status gizi remaja khususnya ukuran LILA. Diagnosis KEK ditandai dengan ukuran LILA dalam kategori gizi kurang (70,1 sd 84,9%). Artinya apabila wanita tersebut memiliki presentase LILA tersebut, maka remaja itu berisiko KEK.

Berikutnya pada tanggal 30 Agustus 2025, kegiatan dilakukan untuk menilai peningkatan keterampilan remaja melalui demontrasi penggunaan pita LILA dan cakram edukasi LILA, dengan harapan remaja mampu mempraktekkan penggunaan pita LILA dengan benar dan menginterpretasikan hasil pengukuran menggunakan cakram edukasi LILA. Sebanyak 60 orang peserta mengikuti kegiatan ini, terlihat 10 remaja yang telah mendapatkan pelatihan pada minggu lalu dapat mempraktekkan pengukuran LILA tersebut dan mengedukasi remaja yang dibawanya pada kegiatan hari ini.

Ketua pelaksana, Dr. Betty Yosephin, SKM, MKM menjelaskan media edukasi ini tidak hanya berisi tentang persentase status gizi remaja namun juga berisi Pencegahan KEK dapat dilakukan dengan memperhatikan pola makan bergizi seimbang yang cukup energi, protein, vitamin, dan mineral. Mengonsumsi makanan bervariasi dari sumber hewani maupun nabati, melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, serta mengonsumsi sumplemen tambahan seperti tablet tambah darah bagi ibu hamil dan remaja putri. Upaya pencegahan ini penting dilakukan agar terciptanya generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.
Dosen Bersama Mahasiswa Gizi lakukan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat