Jakarta, Jobuzo – Sumba dinilai sebagai salah satu destinasi wisata Indonesia yang memiliki potensi besar untuk dikenal lebih luas, baik oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Keindahan alam, budaya, hingga suasana autentik yang masih terjaga membuat Sumba disebut memiliki daya tarik berkelas internasional.
Pandangan itu disampaikan pelaku wisata sekaligus CEO Lintas Dunia, Ferdinand Hamdan. Berbekal pengalaman lebih dari satu dekade di industri pariwisata dan telah mengunjungi lebih dari 40 negara, Ferdinand menilai Sumba memiliki karakter alam yang unik dan sulit ditemukan di tempat lain.
Menurut Ferdinand, setiap sudut Sumba menawarkan pengalaman berbeda. Mulai dari hamparan savana luas, perbukitan eksotis, pantai alami, perkampungan adat, hingga budaya masyarakat lokal yang masih melekat kuat dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menilai, keindahan savana dan lanskap alam Sumba bahkan mengingatkannya pada destinasi-destinasi alam dunia. Ferdinand menyebut, untuk menikmati panorama seperti di Afrika, wisatawan Indonesia sebenarnya tidak perlu pergi jauh ke luar negeri.
“Setelah mengunjungi Sumba, saya semakin percaya bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa dan tidak kalah dengan destinasi dunia mana pun,” kata Ferdinand, Senin (1/6/2026).
Ferdinand menggambarkan Sumba sebagai daerah yang memiliki suasana alam tenang dan memikat. Rumah-rumah tradisional yang berdiri di tengah alam terbuka, kehidupan budaya yang menyatu dengan masyarakat, serta lanskap yang masih alami membuat Sumba terasa seperti negeri dongeng yang nyata.
“Tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa Sumba adalah salah satu permata terbaik Indonesia yang belum sepenuhnya dikenal dunia,” ujarnya.
Perjalanan Ferdinand ke Sumba awalnya hanya direncanakan untuk survei destinasi wisata selama lima hari. Namun, setibanya di sana, ia justru memutuskan memperpanjang perjalanan menjadi lebih dari satu pekan karena masih banyak tempat yang belum sempat dikunjungi.
Sebagai pelaku usaha pariwisata, Ferdinand mengembangkan Lintas Dunia yang berpusat di Pontianak. Saat ini, bisnis perjalanan tersebut juga telah membuka cabang di Jakarta, Yogyakarta, dan Bali.
“Bagi saya, pariwisata bukan sekadar bisnis perjalanan, tetapi juga cara memperkenalkan keindahan Indonesia kepada lebih banyak orang, baik wisatawan domestik maupun mancanegara,” lanjutnya.
Meski demikian, Ferdinand menyoroti sejumlah tantangan yang perlu menjadi perhatian bersama. Salah satunya adalah akses menuju Sumba yang dinilai masih tergolong mahal, terutama harga tiket pesawat. Kondisi tersebut membuat belum semua masyarakat Indonesia dapat dengan mudah menikmati destinasi tersebut.
Selain persoalan akses, Ferdinand juga menilai perkembangan investasi pariwisata di Sumba perlu dijaga agar tetap seimbang. Ia melihat di sejumlah kawasan pantai, khususnya wilayah barat Sumba, mulai terlihat pembangunan properti wisata dengan harga tinggi dan dominasi investor.
Menurutnya, apabila tidak dikelola secara bijak, kondisi itu berpotensi menciptakan kesenjangan sosial antara masyarakat lokal dan perkembangan industri pariwisata.
Ferdinand menegaskan, Sumba seharusnya tidak hanya menjadi destinasi eksklusif bagi kalangan tertentu. Lebih dari itu, Sumba harus menjadi kebanggaan bersama yang tetap memberi ruang, manfaat ekonomi, dan keberlanjutan bagi masyarakat lokal.
“Pariwisata yang baik bukan hanya soal pembangunan resor mewah, tetapi juga bagaimana alam tetap terjaga dan masyarakat setempat ikut tumbuh bersama,” pungkasnya.
Ferdinand Hamdan Soroti Potensi Keindahan Alam Sumba yang Dapat Dikenal Lebih Luas Lagi