Oleh: Andi Putri Tenriyola, S.E., M.M.
Dosen Administrasi Perkantoran UNM
Jobuzo – Dalam satu dekade terakhir, mata kuliah Manajemen Pemasaran kerap menempatkan Google sebagai pintu gerbang utama dalam memahami perilaku konsumen digital. Mahasiswa diajarkan bagaimana mengoptimalkan Search Engine Optimization (SEO) berbasis teks agar sebuah produk dapat muncul di halaman pertama Google.
Namun, hari ini kita sedang menyaksikan pergeseran besar dalam lanskap pencarian informasi. Gen Z mulai mengabaikan Google Search. Ketika mencari rekomendasi tempat makan, tren fesyen, hingga tutorial tugas kuliah, mereka lebih memilih mengetik kata kunci di kolom pencarian TikTok atau langsung bertanya kepada kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT.
Sebagai dosen pemasaran, saya melihat fenomena ini bukan sekadar perubahan aplikasi, melainkan revolusi radikal dalam cara manusia mengonsumsi informasi. Ini menjadi lonceng peringatan bagi pemasaran tradisional yang selama ini terlalu bergantung pada dominasi teks dan mesin pencari konvensional.
Mari kita bedah mengapa anomali perilaku konsumen atau consumer behavior ini dapat terjadi. Gen Z adalah generasi digital native yang tumbuh di era ledakan visual dan kecepatan informasi. Bagi mereka, halaman pencarian Google saat ini terasa terlalu padat, melelahkan, bahkan cenderung “kotor” oleh berbagai iklan dan konten yang dibuat semata-mata untuk mengejar algoritma.
Saat mengetikkan sesuatu di Google, pengguna kerap menemukan hasil teratas yang didominasi oleh iklan atau sponsored links. Setelah itu, mereka dihadapkan pada artikel-artikel SEO-sentris yang ditulis panjang lebar demi mesin pencari, bukan sepenuhnya demi kebutuhan pembaca.
Konsumen muda hari ini mengalami information fatigue atau kelelahan informasi. Mereka tidak selalu memiliki waktu untuk membaca artikel 1.000 kata hanya untuk mengetahui kafe mana yang menarik untuk dikunjungi di Jakarta. Mereka membutuhkan bukti visual yang nyata, cepat, dan mudah dipahami.
Di sinilah TikTok mengambil peran. Sebuah video berdurasi 15 detik mampu memperlihatkan suasana kafe, menu, harga, hingga ulasan langsung dari sesama konsumen. TikTok berhasil memanusiakan mesin pencari melalui pengalaman visual, sementara AI berhasil memangkas birokrasi informasi dengan memberikan jawaban langsung tanpa membuat pengguna harus membuka belasan tautan.
Pergeseran ini melahirkan tantangan etis dan profesional baru dalam dunia pemasaran digital. Pemasaran masa depan tidak lagi hanya berbicara tentang bagaimana memanipulasi kata kunci teks, melainkan bagaimana membangun autentisitas visual dan pemasaran berbasis komunitas, termasuk melalui KOC atau Key Opinion Consumer.
Jika sebuah merek tidak mampu hadir dalam bentuk konten video yang estetik, cepat, dan jujur, atau tidak terindeks dalam basis data AI, maka di mata Gen Z merek tersebut seolah tidak eksis. Kita sedang bergerak dari era Information Age menuju Recommendation Age, yakni era ketika rekomendasi visual, pengalaman pengguna, dan jawaban instan menjadi penentu keputusan konsumen.
Fenomena ini juga menjadi bahan refleksi penting bagi dunia akademik. Kampus tidak boleh terus mengajarkan kurikulum pemasaran digital yang usang. Mahasiswa perlu mulai dilatih untuk menguasai Social SEO, yaitu optimasi pencarian di media sosial, serta memahami bagaimana algoritma rekomendasi berbasis minat bekerja.
Calon manajer pemasaran masa depan tidak cukup hanya diajarkan mengejar angka klik atau clicks. Mereka juga harus dibekali kemampuan membangun narasi visual yang jujur, relevan, dan bernilai tinggi bagi audiens.
Bagi mahasiswa pemasaran, dinamika ini adalah peluang emas sekaligus alarm peringatan. Jangan hanya menjadi konsumen pasif dari algoritma TikTok. Pelajari struktur di baliknya, analisis mengapa sebuah konten visual mampu menggerakkan keputusan pembelian atau purchase decision, dan kuasai teknologi AI untuk melipatgandakan produktivitas riset pasar.
Pada akhirnya, pasar sedang mengajarkan kepada para pelaku bisnis bahwa era monopoli informasi telah usai. Konsumen adalah pemegang kendali tertinggi, dan mereka telah memilih visual serta kecepatan dibanding tumpukan teks iklan yang panjang.
Merek yang keras kepala dan hanya mengandalkan strategi SEO Google konvensional berisiko tersingkir dan terlupakan. Saatnya menyalakan nalar baru dalam strategi pemasaran: ikuti ke mana insting visual generasi muda bergerak, manusiakan komunikasimu, dan pahami bahwa di era digital modern ini, satu detik video yang jujur dapat jauh lebih berharga daripada seribu kata iklan yang penuh kepalsuan.
Sumber:
Prabhakar, R. Senior Vice President Google. Dalam konferensi industri Fortune Brainstorm Tech, perwakilan internal Google secara terbuka mengakui tren ini. Berdasarkan studi internal Google, hampir 40 persen generasi muda berusia 18–24 tahun di Amerika Serikat beralih ke TikTok atau Instagram ketika mencari tempat untuk makan siang, alih-alih menggunakan Google Maps atau Google Search.
Senjakala Google Search di Tangan Gen Z: Ketika Estetika Visual dan AI Menggusur Dominasi Teks