Penulis: Rajif Muzamil Rohman
Intansi: Universitas Negeri Yogyakarta
Jobuzo – Bulan suci Ramadan selalu menjadi momen yang ditunggu bagi seluruh umat Muslim di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Bagaimana tidak, bulan ini selalu memberikan keistimewaan, baik bagi yang menjalankannya maupun yang tidak. Bagi yang menjalankan, Ramadan menjadi momen yang tepat untuk meningkatkan keimanan kepada Allah SWT, karena di bulan ini segala amal ibadah dilipatgandakan. Selain itu, suasana khas seperti “ngabuburit” di berbagai daerah juga menjadi bagian dari pengalaman kolektif yang dinikmati banyak orang.
Pada bulan ini, seluruh umat Muslim diwajibkan berpuasa selama satu bulan penuh, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Kewajiban ini tercantum dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh, maka pada tanggal 1 Syawal umat Muslim merayakan Idul Fitri yang kerap dimaknai sebagai hari kemenangan. Selama Ramadan, umat Islam tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga berupaya mengendalikan diri dari berbagai perilaku buruk serta meningkatkan ibadah, baik yang wajib maupun sunnah.
Secara makna, Idul Fitri berasal dari bahasa Arab: ‘id yang berarti kembali, dan al-fitri yang bermakna suci atau bersih. Dengan demikian, Idul Fitri sering dipahami sebagai momentum kembalinya manusia pada keadaan yang suci. Tidak heran jika hari raya ini identik dengan suasana kebersamaan—berkumpul dengan keluarga, bersilaturahmi, saling memaafkan, serta berbagi kebahagiaan.
Terdengar begitu ideal, bahkan hampir sempurna. Namun, di balik makna yang sarat dengan kemenangan dan kesucian tersebut, ada pertanyaan yang mengusik: apakah Idul Fitri benar-benar dirasakan sebagai kemenangan oleh semua orang?
Pada kenyataannya, tidak semua orang merasakan hal yang sama. Bagi sebagian mereka yang sedang berduka, Idul Fitri justru hadir tanpa kemeriahan. Momen ini dapat kita lihat pada mereka yang terdampak bencana di beberapa wilayah, seperti di Aceh dan daerah lain di Sumatera. Ketika sebagian orang merayakan lebaran dengan pakaian baru, hidangan khas, dan kunjungan ke sanak saudara, mereka justru masih harus bergelut dengan realitas yang jauh dari kata layak.
Sebagian dari mereka masih sibuk membersihkan sisa lumpur, menunggu distribusi air bersih, serta berharap bantuan segera datang. Tidak sedikit yang harus merayakan Idul Fitri di tenda-tenda pengungsian, tanpa kepastian kapan dapat kembali ke rumah yang telah hilang. Lebih dari itu, mereka tidak hanya kehilangan harta benda, tetapi juga harapan, rasa aman, bahkan orang-orang yang mereka cintai.
Dalam titik ini, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan meninjau kembali makna kemenangan yang selama ini kita pahami. Jika Idul Fitri dimaknai sebagai kembalinya manusia pada keadaan suci, maka pertanyaannya bukan hanya apakah kita telah menahan lapar dan dahaga selama satu bulan penuh, tetapi juga apakah kita telah menghadirkan kepedulian terhadap sesama sebagai bagian dari kesucian itu sendiri.
Kemenangan seharusnya tidak hanya bersifat personal dan spiritual, tetapi juga memiliki dimensi sosial. Sebab, kesalehan yang hanya berhenti pada diri sendiri akan terasa hampa ketika di sekitar kita masih banyak orang yang hidup dalam kesulitan. Dalam hal ini, kemenangan menjadi sesuatu yang perlu dipertanyakan kembali, terutama ketika masih ada mereka yang tidak dapat merasakan kebahagiaan yang sama di hari raya.
Idul Fitri seharusnya tidak hanya menjadi perayaan atas keberhasilan menunaikan ibadah, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas sosial. Rasa lapar yang kita rasakan selama Ramadan seharusnya melatih kepekaan terhadap mereka yang setiap hari hidup dalam kekurangan. Namun, jika setelah Ramadan berakhir kita kembali pada sikap acuh dan tidak peduli, maka ada kemungkinan bahwa esensi dari ibadah tersebut belum sepenuhnya tercapai.
Di sinilah letak kegelisahan itu muncul. Ketika sebagian orang merayakan kemenangan dengan penuh suka cita, sementara di sisi lain masih ada mereka yang berjuang untuk sekadar bertahan hidup, maka kemenangan terasa tidak lagi utuh. Ia menjadi parsial, bahkan cenderung eksklusif.
Maka, mungkin Idul Fitri bukan sekadar tentang kembali pada kesucian secara individu, tetapi juga tentang sejauh mana kita mampu menghadirkan keadilan dan kepedulian dalam kehidupan bersama. Kemenangan yang sejati bukan hanya dirasakan oleh diri sendiri, tetapi juga tercermin dari bagaimana kebahagiaan itu dapat menjangkau mereka yang selama ini terpinggirkan.
Jika masih ada mereka yang merayakan Idul Fitri dalam keadaan berduka, kehilangan, dan ketidakpastian, maka barangkali yang perlu kita rayakan bukanlah kemenangan itu sendiri, melainkan kesadaran untuk terus memperjuangkan kemanusiaan.
Idul Fitri yang Tidak Dimenangkan bagi Mereka yang Berduka