Jobuzo – Kabar duka datang dari keluarga besar IMMIM. Ketua YASDIC IMMIM Cabang Pangkep, Dra. Hj. Sri Hajati Fachrul Islam, wafat pada usia 73 tahun saat menghadiri sebuah kegiatan di Minasatene, Sabtu (14/2/2026).
Almarhumah mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 11.00 WITA, tepat ketika sedang menyampaikan sambutan dalam rangka Hari Lahir (Harlah) IMMIM ke-51 yang dirangkaikan dengan penutupan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) IMMIM. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, serta seluruh civitas akademika IMMIM yang mengenalnya sebagai sosok penggerak pendidikan dan pembinaan umat.
Sepanjang hidupnya, Hj. Sri Hajati dikenal sebagai figur yang aktif, bersahaja, dan memiliki dedikasi tinggi dalam pengembangan pendidikan Islam di Kabupaten Pangkep. Pengabdian yang ia jalani hingga akhir hayat menjadi warisan berharga bagi banyak generasi.
Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi dunia pendidikan Islam. Doa dan ucapan belasungkawa pun terus mengalir, disertai harapan agar segala amal ibadah dan pengabdiannya diterima di sisi Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
Dikutip dari laman Palontara.id, Sabtu pagi, 14 Februari 2026, suasana di Minasatene semula dipenuhi semangat perayaan. Jalan santai dan penampilan drumband santriwati menyatu dengan tawa para peserta. Di tengah keramaian itu, sosok Ibu Dra. Hj. Sri Hajati Fachrul Islam tampak berjalan ringan, berbincang hangat bersama para guru, pembina, dan pengasuh pesantren.
Di usia yang tak lagi muda, beliau tetap memancarkan energi dan semangat. Suara lembutnya yang tegas berkali-kali menyemangati para santri dan guru yang jauh lebih muda darinya. Tak ada yang menduga, pagi yang penuh keceriaan itu menjadi momen terakhir beliau membersamai pondok yang dicintainya.
Usai kegiatan jalan santai, Aula Besar Ponpes Modern Putri IMMIM dipenuhi kebahagiaan peringatan Milad ke-51. Ibu Dra. Hj. Sri Hajati berdiri di atas mimbar, menatap para santriwati dengan penuh kasih. Dalam sambutannya, beliau sempat memberikan apresiasi atas prestasi para santri di ajang Porseni 2026.
Namun ketika pidato masih berlangsung saat beliau hendak mengulas perjalanan panjang merintis Pondok Pesantren Putri IMMIM—takdir berkata lain. Beliau tiba-tiba jatuh ke belakang, membuat suasana aula berubah menjadi kepanikan. Tangis dan doa pecah di antara para hadirin.
Perjalanan menuju RSUD Pangkep menjadi momen yang paling menyesakkan. Hingga akhirnya dokter menyatakan bahwa sang “Ibu” telah berpulang ke rahmatullah.
Kepergian beliau terasa begitu dalam karena terjadi di tengah orang-orang yang selama ini dianggapnya sebagai keluarga. Beliau berpulang di tempat yang ia bangun dengan cinta—Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene Pangkep.
Bagi banyak orang, wafatnya beliau saat menyampaikan sambutan menjadi simbol pengabdian tanpa henti, seolah menegaskan bahwa perjuangannya berakhir di atas podium dakwah dan pendidikan. Milad ke-51 yang semula dirayakan dengan sukacita berubah menjadi momen haru yang tak terlupakan.
Langkah ringan beliau dalam jalan santai pagi itu kini menjadi kenangan terakhir bagi para santriwati. Sosoknya tidak hanya meninggalkan sebuah lembaga pendidikan, tetapi juga nilai-nilai perjuangan yang hidup dalam setiap doa anak didiknya.
Selamat jalan, Dra. Hj. Sri Hajati Fachrul Islam. Doa terbaik mengiringi perjalananmu menuju Jannatul Firdaus. Perayaan Milad boleh berubah menjadi duka, namun jejak kebaikanmu akan terus hidup di hati keluarga besar IMMIM. (*)
Kabar Duka, Sri Hajati Fachrul Islam Berpulang Saat Sambutan Milad IMMIM