BRUSSEL, Jobuzo — Para pakar internasional dalam ajang European Hydrogen Week 2025 di Brussel, Belgia, menyoroti kemajuan China di bidang energi hidrogen, seraya menyebut penerapan yang kuat dan ekosistem industri yang berkembang baik di negara tersebut.
Sebagai acara terkait hidrogen terkemuka di Eropa, European Hydrogen Week menggelar konferensi kebijakan tingkat tinggi, forum bisnis-ke-bisnis (business-to-business/B2B), dan forum inovasi yang berfokus pada pengembangan industri hidrogen dan kebijakan terkait.
China secara efektif menerapkan pendekatan bertahap dalam penggunaan energi hidrogen pada kendaraan penumpang, kata Erwin Penfornis, wakil presiden divisi bisnis energi hidrogen global di Air Liquide, dalam forum B2B yang mengusung tema “Hydrogen Markets in Motion: Europe, United States, China, India and the Global Race to Scale-Up”.
Pendekatan ini memungkinkan China menguji berbagai teknologi baru dan mendorong persaingan yang mencukupi, yang pada akhirnya menghasilkan solusi paling efektif untuk produksi dan penerapan energi hidrogen di negara itu, lanjut Penfornis.
Menurut data dari Hydrogen Europe, China menempati peringkat pertama di dunia dalam komitmen investasi hidrogen per 2030 dan menyumbang sebagian besar produksi hidrogen baik di Asia maupun secara global.
Pada 2022, data dari rencana yang dirilis oleh otoritas China untuk pengembangan energi hidrogen dari 2021 hingga 2035 menunjukkan bahwa output hidrogen tahunan China mencapai sekitar 33 juta ton.
“China memiliki electrolyzer (komponen kunci untuk memproduksi hidrogen) kelas dunia yang sangat kompetitif dengan electrolyzer yang diproduksi di Eropa,” kata Khaled Nageib, CEO Egypt Hydrogen. Dia menambahkan bahwa Mesir telah bekerja sama secara luas dengan manufaktur China karena reputasi mereka terkait kualitas yang tinggi dan harga yang wajar.
“Keuntungan lain dari industri hidrogen China, serta sektor hijau lainnya, adalah transisi yang lancar antara pendidikan tinggi, lembaga penelitian, dan industri,” imbuh Nageib. Dia juga menyebut bahwa kolaborasi yang erat antara akademisi dan dunia usaha membuat China dapat menggenjot peningkatan teknologi.
Menurut Willem-Jeroen Stevens, manajer mitra di perusahaan jasa keuangan Clear di Belanda, pengembangan hidrogen di China mencapai kemajuan melalui model “lembah” industri, yang berarti rantai pasokan yang lengkap berkembang di dalam kota atau daerah yang terhubung, sehingga mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi penelitian dan produksi.
Rencana China bertujuan untuk menetapkan rancangan industri yang terorganisasi dengan baik dan mendorong penggunaan produksi hidrogen secara luas dari sumber energi terbarukan per 2030, yang akan memberikan dukungan kuat untuk mencapai tujuan puncak emisi karbonnya.
Eugene McKenna, wakil presiden senior Bidang Hidrogen dan Teknologi Berkelanjutan di Johnson Matthey, mendorong lebih banyak orang Eropa untuk mengunjungi China dan melihat situasi secara langsung.
“Saya sangat merekomendasikan untuk mengunjungi China karena rasanya seperti uji kasus tentang cara merumuskan strategi dan melaksanakan strategi tersebut,” tutur McKenna. (Xinhua)
Kemajuan Industri Hidrogen China Disorot di Eropa