BOGOR, Jobuzo – Menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, umat Islam diajak memaknai hijrah tidak sekadar sebagai pergantian waktu, tetapi sebagai momentum untuk meninggalkan segala larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala menuju kehidupan yang diridhai-Nya.
Pesan tersebut disampaikan KH. Drs. Yakhsyallah Mansur, MA saat mengisi Kajian Ahad Ba’da Shubuh bertema “Memaknai Tahun Baru Hijriyah 1448” di Masjid Athoillah Kota Wisata, Desa Nagrak, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Ahad (14/6/2026). Kajian tersebut bertepatan dengan 28 Dzulhijjah 1447 H.
Di hadapan puluhan jamaah, Imaam Yakhsyallah mengawali kajiannya dengan mengingatkan pentingnya niat dalam setiap amal ibadah. Ia mengutip hadis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam riwayat Imam Bukhari dan Muslim tentang amal yang bergantung pada niat.
Menurut Pembina Utama Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi itu, diterimanya ibadah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki dua syarat utama, yakni niat yang ikhlas dan mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
“Begitu pentingnya hijrah, karena Rasulullah menghubungkannya dengan niat, yang merupakan syarat utama diterimanya amal ibadah,” ujar Yakhsyallah.
Ia menjelaskan, hijrah memiliki beberapa makna, di antaranya mendiamkan, meninggalkan, dan menjauhkan diri dari sesuatu. Namun dalam ajaran Islam, makna hijrah yang paling penting adalah meninggalkan segala hal yang dilarang Allah Subhanahu wa Ta’ala menuju sesuatu yang diridhai-Nya.
“Hijrah adalah meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menjadikan Islam jaya, sebagaimana jayanya umat Islam setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hijrah dari Makkah ke Madinah,” katanya.
Yakhsyallah menegaskan, jika umat Islam ingin kembali berjaya, maka hijrah harus diwujudkan dalam kehidupan nyata. Menurutnya, hijrah dapat dimulai dengan meninggalkan kebiasaan buruk, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
“Mari kita berhijrah, meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah menuju apa yang diridhai-Nya. Kita mulai dengan menghilangkan kebiasaan buruk dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat, seperti malas beribadah, korupsi, perpecahan, serta sikap saling mencela sesama muslim,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kejujuran dan amanah dalam kehidupan berbangsa. Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan dapat membawa kemakmuran jika dikelola dengan baik.
“Jika para pejabat jujur dalam menjalankan tugasnya, tidak korupsi, saya yakin negeri ini akan menjadi negeri yang maju. Sumber daya alam yang sangat melimpah jika dikelola dengan amanah, tentu akan memberikan kemakmuran bagi rakyat,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengajak umat Islam untuk memperkuat ibadah, menjaga persatuan, dan membangun kehidupan berjamaah. Dengan menjalankan ajaran Islam secara sungguh-sungguh, masyarakat yang beradab dapat terwujud.
“Tinggalkan malas shalat malam, tinggalkan perpecahan dan kembali hidup berjamaah, insya Allah akan mendapat ridha-Nya. Jika umat Islam benar-benar menjalankan ajaran agamanya, maka kita akan dapat membangun masyarakat madani, masyarakat yang beradab,” tambahnya.
Kajian yang berlangsung pukul 05.10 hingga 06.15 WIB itu diikuti puluhan jamaah dari warga Kota Wisata Den Haag Forestry dan sekitarnya, para ikhwan dan akhwat Desa Pasirangin Cileungsi, serta pimpinan Pondok Pesantren Al-Fatah.
Suasana kajian berlangsung hangat dan khidmat. Para jamaah tampak antusias menyimak materi yang dinilai relevan dengan momentum pergantian tahun baru Hijriyah.
Usai kajian, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Athoillah menjamu para jamaah dengan sarapan nasi soto. Momen tersebut turut mempererat ukhuwah dan kebersamaan di antara peserta yang hadir. [AM]
KH Yakhsyallah Mansur Ajak Umat Maknai Tahun Baru Hijriyah sebagai Momentum Hijrah