Jobuzo – Pesantren Nurul Jalal, yang berlokasi di kawasan Jakarta Utara, menjadi titik temu menarik antara tradisi keagamaan klasik dan dunia modern. Di tengah hiruk-pikuk perkotaan, pesantren ini mempertahankan metode pengajaran kitab kuning sebagai kurikulum utama, tanpa silabus formal dari pemerintah pendidikan, namun tetap dinilai sangat relevan oleh santri dan masyarakat lokal.
Sejak 2025, pimpinan pesantren, yaitu Kyai Abi Ichwanuddin dan Buya Wahyu Mischbah, memimpin penguatan kembali sistem pembelajaran kitab kuning sebagai pondasi. Para santri, yang datang dari latar belakang mahasiswa dan pekerja paruh waktu di sekitar Jakarta Utara, secara konsisten mengikuti kegiatan ngaji setiap hari meskipun jadwal mereka padat.

Alasan utama penguatan ini adalah menjaga identitas keilmuan tradisional di tengah kemajuan teknologi dan modernisasi. Dalam pandangan kedua kyai, kitab kuning bukan sekadar teks, melainkan “napas spiritual” yang membantu santri berkembang secara moral dan intelektual. Santri seperti Rafli, yang memilih menetap di Pondok Pesantren mengaku bahwa “hidupnya terasa lebih tertata” setelah rutin mengaji kitab kuning meski tanpa sistem ujian formal.
Metode pengajaran utama adalah sorogan dan bandongan—kiai membacakan teks klasik tanpa harakat, lalu menjelaskan makna bahasa dan konteksnya. Kitab yang diajarkan berjenjang: mulai dari Safinatun Najah, Taqrib, Fathul Mu’in, hingga materi lanjutan seperti I’anah at-Thalibin. Proses kelulusan tidak diukur melalui ijazah, melainkan kemampuan santri menghadapi proses belajar, disiplin, dan ketekunan.
Keunggulan pesantren ini terlihat dari fleksibilitas kurikulumnya dan adaptasi terhadap dinamika kota. Santri tetap bisa ngaji malam setelah kuliah atau bekerja part-time, menunjukkan bahwa tradisi keilmuan klasik masih mampu berintegrasi ke dalam ritme kehidupan urban tanpa kehilangan esensi. Selain itu, pesantren mulai memasukkan muatan kitab kuning ke dalam kurikulum sekolah formal di bawah naungannya—sebuah contoh akomodasi strategis terhadap regulasi pendidikan modern.
Oleh: Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan
Kurikulum Kitab Kuning di Tengah Jakarta: Ketangguhan Pesantren Nurul Jalal