Jakarta, Jobuzo — CEO Universal Institute of Professional Management (UIPM), Rantastia Nur Alangan, menegaskan pentingnya transparansi dan rekam jejak profesional dalam menghadapi dinamika ruang publik digital. Salah satu langkah yang ditempuh adalah dengan menampilkan latar belakang profesional dan sertifikasi internasional secara terbuka melalui platform LinkedIn.
Menurut Rantastia, LinkedIn dipilih karena merupakan ruang profesional yang menekankan data, pengalaman, dan kredibilitas, bukan opini emosional. Ia menilai bahwa keterbukaan informasi menjadi pendekatan yang lebih tepat dibandingkan polemik di media sosial yang sering kali tidak berbasis fakta.
“Dalam ruang profesional, fakta berbicara lebih kuat daripada klarifikasi panjang. Transparansi adalah bentuk tanggung jawab publik,” ujarnya.
UIPM sendiri dikenal sebagai institusi pendidikan 100 persen daring yang dikelola secara global, dengan mahasiswa dan pengelola yang tersebar di berbagai negara. Model ini mengandalkan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), untuk mendukung pembelajaran, simulasi akademik, dan kolaborasi lintas negara.
Rantastia menjelaskan bahwa pemanfaatan AI dalam sistem pendidikan UIPM diarahkan untuk kepentingan ilmiah dan kemanusiaan, seperti simulasi diplomasi, perdamaian, dan praktik pembelajaran yang tidak memungkinkan dilakukan secara fisik dalam sistem pendidikan online. Ia menegaskan bahwa teknologi tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai alat yang nilainya ditentukan oleh tujuan penggunaannya.
Dalam konteks tersebut, publikasi profil profesional di LinkedIn dinilai sebagai bagian dari strategi membangun otoritas yang berbasis data dan etika, sekaligus memberikan konteks utuh kepada masyarakat mengenai kepemimpinan dan visi pendidikan yang diusung UIPM. Informasi yang ditampilkan mencakup peran profesional, pengalaman kepemimpinan, sertifikasi internasional, serta narasi nilai yang menempatkan pendidikan sebagai amanah moral.
Langkah ini juga dimaksudkan untuk mengarahkan publik yang ingin mengetahui lebih jauh kepada sumber informasi yang lebih kredibel, alih-alih terjebak dalam perdebatan di kolom komentar media sosial. Penempatan tautan LinkedIn dilakukan secara selektif, seperti pada situs resmi, dokumen publik, dan deskripsi konten edukatif, tanpa menjadikannya alat konfrontasi.
Pengamat komunikasi digital menilai pendekatan tersebut sebagai bentuk soft power reputasi, di mana figur publik memilih membangun legitimasi jangka panjang melalui konsistensi data dan sikap profesional. Dengan profil yang tersusun rapi dan terbuka untuk diverifikasi, ruang spekulasi dan narasi negatif cenderung menyempit dengan sendirinya.
Rantastia menegaskan bahwa langkah ini bukan bertujuan untuk pencitraan berlebihan, melainkan sebagai wujud akuntabilitas dan tanggung jawab etis dalam kepemimpinan pendidikan. “Pendidikan harus dijalankan dengan kejujuran, martabat, dan niat yang benar. Teknologi dan reputasi hanyalah sarana, bukan tujuan,” katanya.
Rantastia Nur Alangan Tampilkan Profil Profesional di LinkedIn sebagai Bentuk Transparansi Publik
.jpg?download=false&resolution=HD&w=300&resize=300,300&ssl=1)