Januari 2026 dibuka dengan sebuah narasi visual yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga mencubit sanubari. Di balik layar bioskop yang mulai menayangkan film Uang Passolo sejak 8 Januari lalu, kita diajak berkunjung ke sebuah realitas yang sangat dekat dengan denyut nadi masyarakat Sulawesi Selatan.
Film garapan sutradara Andi Burhamzah ini bukan sekadar tontonan hiburan, melainkan sebuah cermin besar yang mengajak kita melihat kembali bagaimana tradisi dan modernitas seringkali berbenturan di pelaminan.
Bayangkan sosok Biba, seorang guru honorer yang ketulusannya terpancar dari kesederhanaannya. Di sisinya ada Rizky, seorang videografer yang sedang berjuang di titik nadir ekonominya.
Mereka hanya punya satu mimpi sederhana: sebuah pernikahan yang khidmat, tanpa gegap gempita yang membebani. Namun, di dunia nyata, pernikahan bukan hanya milik dua insan. Ia adalah panggung bagi keluarga besar, dan di sinilah konflik dimulai.
Uang Passolo: Layar Kaca yang Memotret Realitas di Depan Mata
Menonton Uang Passolo seperti melihat rekaman kejadian yang mungkin pernah terjadi di rumah tetangga, atau bahkan di keluarga kita sendiri. Film ini dengan apik memotret bagaimana niat suci sebuah pernikahan perlahan tergerus oleh tuntutan status sosial.
Biba dan Rizky harus berhadapan dengan daftar tamu yang membengkak, dekorasi yang melampaui bujet, hingga katering mewah yang dipaksakan keluarga demi menjaga “muka” di hadapan orang lain.
Kekuatan film ini terletak pada kemampuannya membungkus kritik sosial dengan komedi yang segar namun getir. Penampilan Mashita Asapa sebagai Biba sangat menyentuh; ia berhasil menggambarkan kegelisahan seorang anak yang ingin berbakti namun merasa tercekik oleh ekspektasi. Begitu pula dengan Imran Ismail yang memerankan Rizky dengan penuh kerentanan.
Puncaknya adalah saat film ini membawa kita pada momen emosional ketika tanah keluarga terancam digadaikan hanya untuk menutup biaya pesta.
Di titik ini, penonton seolah diajak berhenti tertawa dan mulai merenung: sejauh mana kita bersedia berkorban demi sebuah pesta satu malam, sementara masa depan setelah akad justru terabaikan?
Mengenal Passolo: Antara Tangan yang Memberi dan Silaturahmi yang Erat
Dalam budaya Bugis-Makassar, Uang Passolo atau Doi’ Passolo sebenarnya adalah sebuah tradisi yang sangat luhur. Secara etimologis, massolo berarti memberikan bantuan atau sumbangan.
Ini adalah manifestasi nyata dari semangat gotong royong dan solidaritas sosial. Zaman dahulu, ketika seorang warga mengadakan hajatan, masyarakat sekitar akan datang membawa bantuan, baik berupa tenaga, bahan pangan, maupun uang, dengan tujuan meringankan beban sang tuan rumah.
Tradisi ini adalah bentuk “Miccu Putih” atau bantuan tulus ikhlas. Di sinilah letak keindahan adat kita: sebuah jaring pengaman sosial yang memastikan bahwa beban besar tidak dipikul sendirian.
Ada rasa persaudaraan yang kental ketika amplop-amplop itu diserahkan. Ia adalah simbol bahwa kita tidak sendirian dalam merayakan kebahagiaan.
Secara positif, passolo berfungsi sebagai:
- Penyambung Silaturahmi: Menjadi alasan bagi keluarga jauh dan kerabat untuk datang berkunjung.
- Gotong Royong Finansial: Membantu penyelenggara hajatan menutupi biaya yang seringkali tidak sedikit.
- Pencatatan Sejarah Keluarga: Melalui catatan passolo, kita mengenal siapa saja orang-orang yang peduli dan hadir di saat-saat penting kehidupan kita.

Refleksi di Balik Amplop: Menjaga Marwah Adat Tanpa Menjadi Beban
Namun, seperti dua sisi mata uang, tradisi yang indah ini terkadang mengalami pergeseran makna saat gengsi mulai ikut campur. Film Uang Passolo dengan sangat berani menyentil fenomena di mana pemberian ini berubah menjadi “utang yang wajib dikembalikan” dengan jumlah yang sama atau bahkan lebih besar. Di sinilah letak introspeksi bagi kita semua.
Barangkali, tanpa sadar kita sering terjebak dalam rasa malu jika tidak bisa membalas passolo dengan nominal yang setara. Akibatnya, tujuan utama pernikahan yang harusnya menjadi ibadah yang memudahkan, malah berubah menjadi beban mental yang berat.
Ada beban sosial yang muncul saat nominal di dalam amplop menjadi tolok ukur kehormatan seseorang
Mari kita bertanya dengan rendah hati ke dalam diri kita: Apakah selama ini kita memberi passolo karena ingin membantu, atau hanya karena takut menjadi bahan perbincangan tetangga?
Efek negatif yang sering muncul ketika nilai ketulusan bergeser menjadi gengsi adalah:
- Tekanan Ekonomi: Memaksa diri berutang hanya agar bisa mengadakan pesta mewah demi mengharapkan kembalinya uang passolo.
- Hilangnya Makna Ikhlas: Pemberian tidak lagi terasa seperti “Miccu Putih” melainkan transaksi yang dihitung secara matematis.
- Beban bagi Undangan: Terkadang, orang merasa sungkan hadir di sebuah pesta jika tidak memiliki uang yang “pantas” untuk dimasukkan ke dalam amplop, padahal kehadiran dan doa mereka jauh lebih berharga.
Tentu, tulisan ini tidak bermaksud untuk menyalahkan tradisi. Tradisi passolo adalah warisan leluhur yang sangat mulia dan harus tetap lestari. Namun, alangkah indahnya jika semangat “saling membantu” itu dikembalikan pada hakikatnya yang murni.
Bahwa esensi dari sebuah pesta adalah doa restu, dan esensi dari passolo adalah kasih sayang, bukan ajang pamer kemewahan atau perhitungan utang piutang.
Melalui film Uang Passolo, kita diingatkan kembali untuk lebih bijak dalam menyikapi adat. Menghargai tradisi bukan berarti memaksakan diri di luar kemampuan.
Semoga kita semua bisa terus menjaga marwah budaya Bugis-Makassar dengan hati yang lapang, sehingga setiap hajatan yang digelar benar-benar membawa keberkahan, bukan menyisakan kegelisahan. 🙂