Jobuzo – Pada Jumat, 24 Oktober 2025, IPB University menggelar pelatihan di Desa Petir sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Program Dosen Pulang Kampung. Pelatihan ini merupakan salah satu agenda dari delapan bidang yang menjadi fokus program, mencakup pertanian, peternakan, perikanan, rantai pasok, UMKM, mitigasi bencana, tata kelola sampah, dan desa digital.
Melalui program ini, IPB University melakukan kolaborasi transdisiplin ilmu dan kokreasi dalam pengembangan masyarakat Desa Petir. Kegiatan yang berlangsung sejak Juni hingga Oktober 2025 ini melibatkan dosen dari berbagai fakultas, antara lain Fakultas Ekologi Manusia, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Fakultas Peternakan, serta Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Seluruh kegiatan dirancang untuk menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat secara nyata melalui pendekatan yang terintegrasi dan partisipatif.
Desa Petir dipilih sebagai lokasi program karena memiliki potensi sumber daya yang beragam, mulai dari sektor pertanian, perikanan, peternakan, hingga UMKM. Namun di sisi lain, desa ini juga menghadapi sejumlah tantangan seperti risiko bencana alam, sistem pengelolaan sampah yang belum optimal, serta kesenjangan literasi digital dan akses pasar.
Pada pelatihan yang diadakan pada 24 Oktober tersebut, para dosen memberikan materi terkait digital marketing, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), dan pengelolaan sampah berkelanjutan. Salah satu dosen, Medhanita Dewi Renanti, S.Kom., M.Kom., dosen Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak IPB, mengajarkan masyarakat khususnya pelaku UMKM mengenai dasar-dasar pemasaran digital, mulai dari pembuatan platform daring, penggunaan Google Ads, hingga strategi Search Engine Optimization (SEO) agar produk mereka dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

“Sebenarnya masyarakat punya banyak produk yang bagus, tapi mereka belum bisa cara mempromosikan, belum bisa marketingnya,” jelas Medha.” Ia menekankan pemasaran digital bukan soal teknologi semata, tetapi juga soal keberanian untuk mencoba dan membangun identitas usaha di dunia maya. “Bisnis itu terdiri dari dua hal, inovasi dan marketing. Sehingga bagaimana marketing ini bisa selaras dengan tujuan masyarakat supaya ekonomi meningkat. Pelatihan ini ditujukan agar masyarakat tahu bagaimana pemilihan kata kunci yang akan dimasukan ke platform. Karena kalau tidak tahu kata kunci yang dimasukan dalam judul, ya otomatis produk kita tidak akan bisa terlihat oleh orang. Bisa pakai Google Trends, Keywordtool.io, dan yang lainnya.” tambahnya.
Peserta pelatihan, Ibu Ira, pelaku UMKM produk sale pisang ambon, mengaku dari pelatihan ini ia mendapatkan banyak wawasan baru. “Sebelumnya saya udah jualan di Shopee, tapi gak maksimal. Setelah ikut pelatihan ini saya jadi ngerti pentingnya kata kunci, cara mengelola akun, dan jadi lebih termotivasi jualan online,” ujarnya.
Selain pelatihan digital marketing, kegiatan Dospulkam juga memberikan materi terkait pemanfaatan kecerdasan buatan. Fatimah dari Program Studi Kecerdasan Buatan IPB memperkenalkan contoh penggunaan AI yang bisa digunakan oleh pelaku usaha, seperti membuat foto dan video produk agar terlihat lebih menarik.
“Penggunaan AI di pedesaan memang belum masif. Sempat juga ngobrol sama anak-anak yang baru lulus SMA, katanya mereka pernah pakai AI hanya sekedar chat GPT yang digunakan untuk tanya jawab seperti mengerjakan PR.”
Selannjutnya, Dr. Meti Ekayani memparkan materi dan edukasi mengenai pengelolaan sampah. Menurutnya, yang paling penting adalah peran rumah tangga dengan memisahkan antara sampah organik dan anorganik. Sistem pengelolaan sampah di Desa Petir pun saat ini masih dengan cara kumpul, angkut, buang. “Kalau terus begini, timbunan akan makin besar dan akhirnya jadi masalah.” ungkapnya.
Dr. Meti juga menyoroti tentang peran bank sampah dan bagaimana desa lain telah berhasil membentuk bank sampah yang dikelola oleh warga setempat.“IPB sendiri sudah mengembangkan sistem pengelolaan sampah organik dengan maggot di TPA kampus,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya mencari champion atau orang yang bisa menjadi penggerak masyarakat. “Tidak kalah penting juga kita harus mencari siapa championnya, orang yang punya passion punya komitmen untuk lingkungan, bukan hanya untuk dapat uang dari kegiatan tersebut.” katanya.
Dari serangkaian pelatihan dan perbincangan yang telah dilakukan, tampak antusiasme masyarakat dalam belajar dan menyesuaikan diri dengan perubahan. Bagi para dosen, program ini juga menjadi kesempatan untuk refleksi diri bahwa ilmu yang mereka kembangkan akan berarti ketika diterapkan kembali di masyarakat. Pendekatan transdisiplin menjadikan kegiatan ini tidak hanya terbatas pada satu bidang, melainkan menghubungkan pengetahuan akademis dengan kebutuhan yang ada di lapangan.
Kolaborasi Dosen IPB dan Masyarakat Desa Petir dalam Program Dosen Pulang Kampung untuk Pengembangan Desa