Saat Jonas mengemudi di jalan berdebu, matanya tiba-tiba melihat sosok kecil berwarna abu-abu berdiri tepat di tengah jalan. Ia memperlambat laju mobil dan melihat lebih dekat—itu adalah bayi badak. Kecil, bingung, dan terlalu rapuh untuk tempat yang keras seperti itu.
Hatinya mencekam: bayi badak itu jelas tertinggal dari induknya atau tersesat. Jonas dengan hati-hati menghentikan mobil dan keluar, berusaha agar tidak menakuti hewan itu. Tetapi semakin dekat ia, semakin ia merasa ada yang salah. Badak itu tidak berlari, tidak mencoba bersembunyi, tetapi hanya berdiri di sana, sedikit gemetar, seolah-olah tidak berani bergerak.
“Hei, si kecil,” panggilnya lembut, tangannya terkatup seperti terompet. “Ayo minggir.”
Hewan itu hanya menggerakkan telinganya, tetapi tidak bergerak. Ia bergoyang seolah-olah ketakutan atau kesakitan. Perilakunya tampak aneh – bukan hanya anak singa yang tersesat, tetapi seseorang yang tampaknya tahu: bergerak itu berbahaya.
Jonas menyadari bahwa dia tidak bisa mengatasinya sendiri. Dia hendak memeriksa area tersebut untuk mencari jejak ibunya ketika tiba-tiba telepon berdering.
Seorang Pria Berusaha Menyingkirkan Bayi Badak dari Jalan. Saat Mendekat, Ia Menyadari Ada yang Tidak Beres
